Terbongkar Jumlah Sebenarnya Korban PHK Industri Tekstil, Angkanya Fantastis
Jum'at, 14 Juni 2024 - 13:54 WIB
loading...
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di salah satu pabrik garmen di Banjarnegara, Jawa Tengah di tengah gelombang PHK pada industri tekstil. Foto/Arif Julianto, SINDO Photo
A
A
A
JAKARTA - Total karyawan industri tekstil yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK ) disebut melebihi data pemerintah sepanjang tahun 2023. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menyebutkan, berdasarkan data yang dikumpulkan organisasinya, total karyawan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) , yang terkena PHK mencapai angka 500 ribu orang.
Baca Juga: 10 Perusahaan Tekstil yang PHK Karyawan di Awal 2024, Ada 13.800 Karyawan Kena Dampak
Menurut Gita, pemerintah menyebutkan sekitar 150 ribu orang telah dirumahkan akibat efisiensi atau penutupan pabrik industri TPT selama tahun 2023. Namun ia menampik bahwa sebenarnya, fakta di lapangan melebihi angka total yang disebutkan.
"Sepanjang tahun 2023 data resmi pemerintah menyebutkan PHK ada sekitar 150 ribu orang. Tapi prakiraan kami sudah lebih dari 500 ribu orang dengan hitungan yang dirumahkan, putus kontrak dan pensiun dini," ungkap Gita kepada MPI, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga: TikTok Bakal PHK Besar-besaran, Karyawan Global Kena Dampak
Dia melanjutkan, badai PHK massal ini sebenarnya sudah terjadi bahkan sejak akhir tahun 2022. Sejumlah faktor seperti pengaruh konflik perang Rusia-Ukraina sehingga mengakibatkan permintaan ekspor produk TPT Indonesia menurun, menjadi penyebabnya.
"PHK sudah terjadi sejak akhir tahun 2022 yang diawali oleh perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan turunnya daya beli di Eropa dan AS, sehingga perusahaan berorientasi ekspor kesulitan melakukan penjualan dan akhirnya mengurangi produksi diikuti pengurangan karyawan," jelas Gita.
Baca Juga: 10 Perusahaan Tekstil yang PHK Karyawan di Awal 2024, Ada 13.800 Karyawan Kena Dampak
Menurut Gita, pemerintah menyebutkan sekitar 150 ribu orang telah dirumahkan akibat efisiensi atau penutupan pabrik industri TPT selama tahun 2023. Namun ia menampik bahwa sebenarnya, fakta di lapangan melebihi angka total yang disebutkan.
"Sepanjang tahun 2023 data resmi pemerintah menyebutkan PHK ada sekitar 150 ribu orang. Tapi prakiraan kami sudah lebih dari 500 ribu orang dengan hitungan yang dirumahkan, putus kontrak dan pensiun dini," ungkap Gita kepada MPI, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga: TikTok Bakal PHK Besar-besaran, Karyawan Global Kena Dampak
Dia melanjutkan, badai PHK massal ini sebenarnya sudah terjadi bahkan sejak akhir tahun 2022. Sejumlah faktor seperti pengaruh konflik perang Rusia-Ukraina sehingga mengakibatkan permintaan ekspor produk TPT Indonesia menurun, menjadi penyebabnya.
"PHK sudah terjadi sejak akhir tahun 2022 yang diawali oleh perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan turunnya daya beli di Eropa dan AS, sehingga perusahaan berorientasi ekspor kesulitan melakukan penjualan dan akhirnya mengurangi produksi diikuti pengurangan karyawan," jelas Gita.
Lihat Juga :