Ekspor Melesat, Mendag: Momentum Optimalkan Produk Dalam Negeri
Senin, 24 Agustus 2020 - 06:30 WIB
loading...
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (tengah). Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2020 menunjukkan peningkatan di tengah perlambatan perekonomian global. Kinerja ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD 13,7 miliar atau naik 14,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impornya menurun sebesar 2,7 persen dibandingkan Juni 2020 (MoM).
"Kita mulai melihat penguatan rantai nilai domestik di mana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersedian produk-produk di dalam negeri. Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ungkap Menteri Perdagangan Agus Suparmanto , di Jakarta Senin (24/8/2020).
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Mendag Optimistis Sektor Perdagangan Lekas Pulih
Menurut dia, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, baik pada Juli 2020 maupun
secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 surplus USD 3,3 miliar, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Juni 2020 yang surplus USD 1,2 miliar.Adapun surplus tersebut tertinggi sejak tahun 2011 lalu, terakhir di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Peningkatan tersebut didorong perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit," jelas Mendag.
Mendag menyampaikan, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 surplus USD 8,7 miliar. Capaian pada semester pertama 2020 lebih baik dari periode yang sama tahun 2019 yang mengalami defisit USD 2,2 miliar. "Perbaikan neraca perdagangan ini dikarenakan terjadinya penurunan impor cukup tajam," kata dia.
Produk ekspor nonmigas yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hong Kong, dan Singapura. Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filipina, Vietnam, dan Jepang.
"Kita mulai melihat penguatan rantai nilai domestik di mana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersedian produk-produk di dalam negeri. Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ungkap Menteri Perdagangan Agus Suparmanto , di Jakarta Senin (24/8/2020).
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Mendag Optimistis Sektor Perdagangan Lekas Pulih
Menurut dia, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, baik pada Juli 2020 maupun
secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 surplus USD 3,3 miliar, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Juni 2020 yang surplus USD 1,2 miliar.Adapun surplus tersebut tertinggi sejak tahun 2011 lalu, terakhir di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Peningkatan tersebut didorong perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit," jelas Mendag.
Mendag menyampaikan, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 surplus USD 8,7 miliar. Capaian pada semester pertama 2020 lebih baik dari periode yang sama tahun 2019 yang mengalami defisit USD 2,2 miliar. "Perbaikan neraca perdagangan ini dikarenakan terjadinya penurunan impor cukup tajam," kata dia.
Produk ekspor nonmigas yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hong Kong, dan Singapura. Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filipina, Vietnam, dan Jepang.
Lihat Juga :