30 Prediksi Konsumen di New Normal (1)
Sabtu, 02 Mei 2020 - 08:24 WIB
loading...
A
A
A
Work from Home memunculkan tren baru "zoomable workplace"di rumah. Kalau sebelumnya populer istilah "instagramable" maka kini ada istilah tempat kerja di rumah yang "zoomable". Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting. IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari, hal ini telah menjadi kebutuhan self-esteem.
#11. “Work-Live-Play” Balance: Well-Being Revolution
Ketika work from home (WFH) dan flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living), dan menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur. Karena karyawan mengatur waktunya sendiri, mereka bisa mengatur keseimbangan working-living-playing dengan lebih baik. Hal ini akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup (well-being).
#12. The Century of Self Distancing
Begitu wabah Covid-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. Akankah cipika-cipiki atau jabat-tangan punah dari muka bumi?
#13. Contact-Free Lifestyle
Self distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: "contact-free lifestyle". Belanja dilakukan secara daring untuk menghindari paparan virus. Menerima barang dari layanan antar cukup di depan pintu tanpa kontak fisik. Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang “contact-intensive” seperti gulat, tinju, karate, bahkan sepak bola. Jarak antarkursi di pesawat atau bioskop akan lebih lebar.
#14. Low-Trust Society
Krisis Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antarwarga meningkat di masyarakat. Beberapa kasus penolakan jenazah positif Covid-19; pengusiran tenaga kesehatan karena takut tertular; atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat lebaran, menciptakan kondisi yang saya sebut "low-trust society". Social distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.
#15. Constantly-Fear Customers
Di tengah krisis dan ketidakpastian. Orang mengalami kekacauan mental healthiness sehingga menjalani hari-hari dalam ketakutan. Takut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar utang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa.
#11. “Work-Live-Play” Balance: Well-Being Revolution
Ketika work from home (WFH) dan flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living), dan menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur. Karena karyawan mengatur waktunya sendiri, mereka bisa mengatur keseimbangan working-living-playing dengan lebih baik. Hal ini akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup (well-being).
#12. The Century of Self Distancing
Begitu wabah Covid-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. Akankah cipika-cipiki atau jabat-tangan punah dari muka bumi?
#13. Contact-Free Lifestyle
Self distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: "contact-free lifestyle". Belanja dilakukan secara daring untuk menghindari paparan virus. Menerima barang dari layanan antar cukup di depan pintu tanpa kontak fisik. Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang “contact-intensive” seperti gulat, tinju, karate, bahkan sepak bola. Jarak antarkursi di pesawat atau bioskop akan lebih lebar.
#14. Low-Trust Society
Krisis Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antarwarga meningkat di masyarakat. Beberapa kasus penolakan jenazah positif Covid-19; pengusiran tenaga kesehatan karena takut tertular; atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat lebaran, menciptakan kondisi yang saya sebut "low-trust society". Social distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.
#15. Constantly-Fear Customers
Di tengah krisis dan ketidakpastian. Orang mengalami kekacauan mental healthiness sehingga menjalani hari-hari dalam ketakutan. Takut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar utang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa.
(ysw)
Lihat Juga :