alexametrics

Hingga Kuartal III, Tower Bersama Catat Pendapatan Rp3,4 Triliun

loading...
Hingga Kuartal III, Tower Bersama Catat Pendapatan Rp3,4 Triliun
Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) hingga kuartal III/2019 mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp3,469 triliun dan Rp2,956 triliun. Jika pencapaian kuartal ketiga ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan mencapai Rp4,768 triliun dan Rp4,061 triliun.

CEO TBIG Hardi Wijaya Liong mengatakan hingga akhir September 2019, perseroan memiliki 27.789 penyewaan dan 15.485 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri dari 15.396 menara telekomunikasi dan 89 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 27.700, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,80.

“Kami dengan bangga melaporkan bahwa di kuartal ketiga 2019, TBIG mencapai pertumbuhan penyewaan organik tercepat yang pernah ada. Kami menambahkan 1.342 penyewaan kotor yang terdiri dari 196 site telekomunikasi dan 1.146 kolokasi. Hal ini membuat penambahan organik kotor kami sebanyak 2.578 penyewaan untuk sembilan bulan pertama tahun 2019 dan kami berharap kami berharap untuk melebihi target kami untuk tahun 2019 yang sebesar 3.000 penyewaan,” kata Hardi dalam rilisnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, pelanggan telekomunikasi TBIG tetap terus melakukan densifikasi jaringan mereka diseluruh negeri, yang menyebabkan peningkatan yang cukup tajam untuk order kolokasi. Dengan pertumbuhan yang kuat di kolokasi, rasio kolokasi (tenancy ratio) meningkat ke 1,80 dari 1,69 di akhir 2018.



Hingga kuartal III/2019, total pinjaman (debt) perseroan, jika pinjaman dalam mata uang dolar Amerika Serikat (USD) yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah sebesar Rp21,122 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp13,186 triliun.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp333 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp20,789 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) perseroan menjadi Rp12,853 triliun. Menggunakan EBITDA kuartal ketiga 2019 yang disetahunkan, maka rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA adalah 3,2x dan total pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 5,1x.

Menurutnya, TBIG masih memiliki ruang yang cukup untuk pinjaman berdasarkan pembatasan keuangan (financial covenant) untuk tidak lebih tinggi dari 5,0x untuk rasio pinjaman senior (yang diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya) terhadap EBITDA bulan terakhir yang disetahunkan untuk pinjaman bank dan tidak lebih tinggi dari 6,25x untuk rasio total pinjaman (yang diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya) terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan untuk obligasi.

CFO dari TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan perseroan memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil mengakses berbagai sumber pendanaan. Pada awal Juli, TBIG membayar lebih cepat sepenuhnya pinjaman berjangka dan menggantinya dengan Fasilitas Revolving (“RCF”) baru sebesar USD375 juta dengan jangka waktu 5,5 tahun bullet dan penurunan biaya bunga sebesar 25bps.

“Hal ini telah memperpanjang jangka waktu rata-rata struktur utang kami dengan tingkat bunga yang sangat kompetitif. Kami terus mematuhi strategi konservatif untuk melindung nilai seluruh utang kami dengan lindung nilai yang sesuai dengan jatuh tempo utang dan semua lindung nilai kami tetap efektif,” kata Helmy.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak