Negara Berkembang Timbun Emas 800 Ton, Cadangan Devisa AS Anjlok di Bawah 60%

Selasa, 08 Oktober 2024 - 07:38 WIB
loading...
Negara Berkembang Timbun...
Bank Sentral negara-negara berkembang menimbun emas hingga ratusan ton menjauh dari dolar AS. FOTO/iStock
A A A
JAKARTA - BRICS menimbulkan masalah bagi cadangan dolar Amerika Serikat (AS) dari segala penjuru setelah Gedung Putih menjatuhkan sanksi terhadap Rusia pada tahun 2022. Aliansi ini telah mengumpulkan emas selama dua tahun dan mendiversifikasi cadangan bank sentralnya dengan logam mulia.

Dalam 18 bulan terakhir, bank-bank sentral negara-negara berkembang secara gabungan telah membeli 800 ton emas. China telah membeli 225 ton emas dalam 15 bulan terakhir saja. Rusia, China, dan India adalah beberapa pembeli emas terbesar dan mendorong harga logam mulia ini.

"Secara year to date, bank-bank sentral negara berkembang telah membeli 800 ton emas, 14% lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu," demikian dilaporkan oleh World Gold Council, dilansir dari Watcher Guru, Selasa (8/10/2024).

Baca Juga: BRICS Pimpin Pemakaman Dolar AS, Bank-bank Amerika Runtuh Telan Kerugian Rp7.800 Triliun

Hal ini menyebabkan penurunan cadangan dolar AS karena negara-negara BRICS menggantinya dengan emas di bank-bank sentral mereka. Data terbaru menunjukkan bahwa cadangan devisa bank sentral dalam mata uang dolar AS telah turun menjadi 58,2% pada 2024. Ini adalah level terendah yang tercatat sejak 1995 karena negara-negara BRICS dan negara-negara berkembang lainnya menambahkan emas dan mata uang lokal lainnya ke dalam cadangan devisa mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Rekomendasi
Komut Pertamina Kunjungan...
Komut Pertamina Kunjungan Kerja ke Jatim hingga Nusa Tenggara, Ini Hasilnya
Sekarang Kalian Orang...
Sekarang Kalian Orang Meksiko, Perpisahan Mengharukan untuk Iran
OTT KPK di Kuansing...
OTT KPK di Kuansing Riau Diduga Terkait Suap Jual Beli Jabatan Sekda
Berita Terkini
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
Perkuat Ekonomi Rakyat,...
Perkuat Ekonomi Rakyat, BSI Apresiasi Penempatan SAL untuk Pembiayaan Produktif
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Penuhi Target 100 GW...
Penuhi Target 100 GW PLTS, Kesiapan SDM Lokal Jadi Syarat Mutlak
MUF Dorong Adopsi Kendaraan...
MUF Dorong Adopsi Kendaraan Listrik bagi Nasabah Bank Mandiri lewat EV Coffee & Drive
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved