Ancaman Arab Saudi Bisa Bikin Krisis Ekonomi Perang Rusia

Rabu, 16 Oktober 2024 - 08:14 WIB
loading...
Ancaman Arab Saudi Bisa...
Ekonomi perang Rusia diramalkan bakal mengalami kesulitan untuk mengamankan pendapatan dari minyak yang selama ini menjadi andalan Kremlin. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ekonomi perang Rusia diramalkan bakal mengalami kesulitan untuk mengamankan pendapatan dari minyak yang selama ini menjadi andalan Kremlin. Alasannya lantaran Arab Saudi menebar ancaman bakal menekan harga minyak mentah global.

Kerajaan dilaporkan telah mengisyaratkan bahwa minyak mentah bisa turun ke level terendah USD50 per barel, jika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak berkomitmen untuk mengurangi produksi minyak.

Baca Juga: KTT BRICS Terancam! Saat Pejabat Tinggi Ekonomi Dunia Menjauh dari Moskow

Dengan kata lain menurut para analis, Riyadh memberikan sinyal bahwa mereka dapat membanjiri pasar dengan pasokan minyak mentah. Langkah itu akan memangkas harga dan menghukum anggota OPEC yang tidak bekerja sama dalam mengurangi aliran minyak - termasuk Rusia.

"Dengan Rusia sudah menjual minyaknya dengan harga diskon dan dengan biaya produksi yang lebih tinggi, lingkungan harga rendah di pasar minyak dapat memengaruhi kemampuannya untuk membiayai perang di Ukraina," tulis Luke Cooper, seorang peneliti di London School of Economics, untuk IPS Journal.

Arab Saudi yang pemimpin de facto OPEC, telah berusaha untuk menjaga minyak di atas level USD100 per barel dengan mendorong negara-negara anggota untuk memangkas produksi.

Tetapi dengan kondisi minyak mentah internasional saat ini yang masih melayang di bawah angka USD80, maka target itu tidak berhasil dijalankan. Untuk mengubah strategi, disampaikan sumber kepada Financial Times bahwa Riyadh saat ini berencana membuka kerannya pada bulan Desember.

"Arab Saudi muak," kata Simon Henderson, direktur Program Bernstein tentang Kebijakan Teluk dan Energi di The Washington Institute, kepada Business Insider.

"Kepemimpinan OPEC adalah tanggung jawab multifaset. Ini bisa bekerja dengan baik, tetapi juga seperti menggembalakan kucing — sangat mustahil, setidaknya untuk beberapa waktu."

Data Peringkat Global S & P menghitung Rusia berada di antara produsen yang memproduksi secara berlebihan di OPEC+. Menurut data terakhir yang tersedia, Moskow memproduksi 122.000 barel di atas kuota hariannya pada bulan Juli. Selain itu Iran dan Kazakhstan juga melanggar ambang batas yang disepakati.

Dilema Kremlin

Henderson memperkirakan, bahwa beberapa anggota OPEC mungkin melakukan ini untuk memaksimalkan keuntungan.

Dalam kasus Rusia, Moskow menghadapi tekanan untuk meraup sebanyak yang dimiliki, karena perangnya di Ukraina telah menggelembung pengeluaran pertahanan dan keamanan dalam perang yang sudah berjalan tiga tahun. Sektor-sektor ini secara kolektif akan menyumbang 40% dari semua pengeluaran federal di Rusia tahun depan.

Sementara itu, keuangan Rusia sangat bergantung pada pendapatan minyak. Beberapa tahun yang lalu, produksi gas dan minyak menyumbang 35% hingga 40% dari pendapatan anggaran negara, kata menteri keuangan Rusia minggu ini.

Karena alasan inilah Barat begitu fokus untuk mengekang keuntungan minyak Rusia. Pembatasan harga minyak Rusia USD60 diperkenalkan, meski inisiatif tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Menghadapi pembatasan harga itu, Rusia mampu menghindarinya dengan menggunakan kapal tanker "bayangan" yang tidak terdaftar. Akan tetapi ancaman Riyadh membuat harga minyak jadi USD50 per barel, mungkin lebih sulit untuk diatasi.

Keadaan bisa berubah menjadi buruk jika pasokan Arab Saudi menyalakan kembali perang harga minyak antara Rusia dan kerajaan. Henderson mengutarakan hal itu bisa terjadi, mengacu pada peristiwa serupa pada tahun 2020.

Tahun itu, ketidaksepakatan pemotongan produksi mendorong kedua negara untuk melepaskan pasokan, menguji siapa yang bisa bertahan lebih lama dari pelemahan harga.

Namun saat kondisi ekonomi perang, Rusia diyakini bakal menghindari perang harga dengan Riyadh. Namun jika hal itu dilakukan bakal menjadi dilema buat Rusia karena bisa mempengaruhi pendapatan, dengan produksi yang terbatas.

Jika hal-hal berubah menjadi yang terburuk, potensi perang harga menjadi berita buruk bagi Rusia. Baca Juga: Perang Ukraina Mencegah Ekonomi Rusia Jatuh ke Jurang Resesi

"Tidak seperti Arab Saudi, minyaknya tidak murah untuk diekstraksi, membuatnya kurang siap untuk menghadapi kondisi harga rendah. Ini mendorong logika eskalasi jangka pendek untuk perang Rusia di Ukraina, yang membutuhkan keberhasilan yang cepat sebelum munculnya kondisi pasar minyak harga rendah."
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
Rekomendasi
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Roy Suryo Pertanyakan...
Roy Suryo Pertanyakan Legal Standing Ade Darmawan di Kasus Ijazah Jokowi
Piala Dunia 2026: Meksiko...
Piala Dunia 2026: Meksiko Bidik Start Sempurna, Afrika Selatan Jadi Korban Pertama?
Berita Terkini
Harga Pertamax Tembus...
Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Otto Media Grup Kolaborasi...
Otto Media Grup Kolaborasi Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand-Rantai Pasok
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved