Bank Dunia Ramal Kondisi Ekonomi China, Apa Saja Ancamannya?
Jum'at, 27 Desember 2024 - 10:36 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun langkah-langkah pelonggaran kebijakan baru-baru ini diperkirakan akan memberikan dukungan moderat, "kepercayaan rumah tangga dan bisnis yang lemah, bersama dengan hambatan di sektor properti, akan terus membebani pertumbuhan pada tahun 2025," catatan dalam laporan terbaru.
Awal pekan ini, China menekankan komitmen untuk meningkatkan pengeluaran fiskal dan penerbitan obligasi pemerintah pada tahun 2025 dalam upaya untuk menghidupkan kembali ekonominya yang goyah dengan meningkatkan konsumsi dan mendorong permintaan domestik.
Ekonomi terbesar kedua di dunia itu, diperkirakan akan mengadopsi kebijakan fiskal yang lebih proaktif tahun depan.
Selain itu, China baru-baru ini juga memperkenalkan beberapa langkah stimulus untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, termasuk membantu pemerintah daerah dengan pembayaran utang dan memangkas suku bunga utama.
Namun, paket utang lokal senilai USD1,4 triliun yang diumumkan pada awal November tidak memenuhi ekspektasi untuk stimulus kuat yang bertujuan meningkatkan konsumsi.
"Penting untuk menyeimbangkan dukungan jangka pendek terhadap pertumbuhan dengan reformasi struktural jangka panjang," kata Direktur Bank Dunia untuk China, Mongolia, dan Korea, Mara Warwick.
Baca Juga: Sinyal Bahaya dari China Menyala, Perlambatan Ekonomi Semakin Dalam
Awal pekan ini, China menekankan komitmen untuk meningkatkan pengeluaran fiskal dan penerbitan obligasi pemerintah pada tahun 2025 dalam upaya untuk menghidupkan kembali ekonominya yang goyah dengan meningkatkan konsumsi dan mendorong permintaan domestik.
Ekonomi terbesar kedua di dunia itu, diperkirakan akan mengadopsi kebijakan fiskal yang lebih proaktif tahun depan.
Selain itu, China baru-baru ini juga memperkenalkan beberapa langkah stimulus untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, termasuk membantu pemerintah daerah dengan pembayaran utang dan memangkas suku bunga utama.
Namun, paket utang lokal senilai USD1,4 triliun yang diumumkan pada awal November tidak memenuhi ekspektasi untuk stimulus kuat yang bertujuan meningkatkan konsumsi.
"Penting untuk menyeimbangkan dukungan jangka pendek terhadap pertumbuhan dengan reformasi struktural jangka panjang," kata Direktur Bank Dunia untuk China, Mongolia, dan Korea, Mara Warwick.
Baca Juga: Sinyal Bahaya dari China Menyala, Perlambatan Ekonomi Semakin Dalam
Lihat Juga :