3 Alasan Tarif Trump Bukan Satu-satunya Masalah Ekonomi China

Minggu, 19 Januari 2025 - 13:51 WIB
loading...
A A A
Tetapi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor China kemungkinan berada di pasar negara berkembang, yang tidak memiliki tingkat permintaan yang sama dengan Amerika Utara dan Eropa. Maka berpotensi berdampak pada bisnis China yang sedang mencoba untuk berkembang, hingga pada gilirannya menekan pemasok energi dan bahan baku.

Xi Jinping ingin mengubah China dari pabrik dunia untuk barang-barang murah menjadi pembangkit tenaga listrik berteknologi tinggi pada tahun 2035, namun tidak jelas bagaimana manufaktur dapat terus menjadi pendorong pertumbuhan yang besar dalam menghadapi kenaikan tarif.

2. Konsumsi rumah tangga melemah

Di China, sebagian besar kekayaan rumah tangga diinvestasikan di pasar properti. Sebelum krisis real estate menimpa China, hal itu menyumbang hampir sepertiga dari ekonomi China - mempekerjakan jutaan orang, mulai dari kontraktor dan pengembang properti hingga produsen semen dan desainer interior.

Beijing telah menerapkan banyak kebijakan untuk menstabilkan pasar properti, pengawas pasar keuangan, Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC) mengatakan, bakal penuh semangat mendukung reformasi.

Tetapi masih ada terlalu banyak rumah kosong dan properti komersial, dan kelebihan pasokan yang terus memaksa harga turun. Pada akhirnya kemerosotan pasar properti diperkirakan akan mencapai titik terendah tahun ini. Akan tetapi raksasa perbankan Wall Street, Goldman Sachs mengatakan, penurunan akan menjadi "hambatan multi-tahun" pada pertumbuhan ekonomi China.

Tergerusnya konsumsi rumah tangga menjadi pukulan keras buat ekonomi, dimana konsumsi rumah tangga hanya berkontribusi 29% terhadap aktivitas ekonomi China dalam tiga bulan terakhir tahun 2024. Raihan tersebut turun dari 59% sebelum pandemi.

Itulah salah satu alasan Beijing meningkatkan ekspor. Mereka ingin membantu mengimbangi lesunya pengeluaran domestik untuk mobil baru, barang-barang mewah dan hampir untuk semua hal.

Pemerintah bahkan telah memperkenalkan program seperti tukar tambah barang konsumsi, di mana orang dapat menukar mesin cuci, microwave, dan penanak nasi mereka. Tetapi para ahli bertanya-tanya apakah langkah-langkah semacam ini saja sudah cukup, tanpa mengatasi masalah sebenarnya dalam perekonomian.

Mereka mengatakan orang akan membutuhkan lebih banyak uang di saku mereka sebelum pra-Covid untuk merangsang pengeluaran kembali. "China perlu mengembalikan semangat dari populasi dan kita masih jauh dari itu," kata Shuang Ding, Kepala Ekonom untuk China Raya dan Asia Utara di Standard Chartered Bank seperti dilansir BBC.

"Jika sektor swasta mulai berinvestasi dan berinovasi, kondisi itu bisa meningkatkan pendapatan dan prospek lapangan kerja, sehingga orang akan lebih percaya diri untuk mengkonsumsi," bebernya.

Ledakan utang publik dan tingginya pengangguran juga memengaruhi tingkat tabungan dan pengeluaran. Angka resmi menunjukkan angka pengangguran usia muda tetap tinggi dibandingkan sebelum pandemi, dan kenaikan upah mengalami stagnan.

3. China tidak lagi menarik bagi sektor bisnis

Presiden Xi telah berjanji untuk berinvestasi dalam industri mutakhir yang disebut pemerintah sebagai "kekuatan produktif baru". Hingga saat ini, hal itu telah membantu China menjadi pemimpin dalam barang-barang seperti produk energi terbarukan di antaranya panel surya dan baterai kendaraan listrik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Daftar Lengkap 60...
Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
Trump Getok Tarif Impor...
Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes Keras
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
60 Negara Kena Getok...
60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Wanita Keturunan China...
Wanita Keturunan China yang Magang di Markas Militer NATO Ditangkap atas Tuduhan Mata-mata
5 Fakta Pidato Trump...
5 Fakta Pidato Trump di Jamuan Jurnalis Gedung Putih, Ingin Jadi Capres pada Pilpres Mendatang
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
Rekomendasi
Pendiri BSB Temukan...
Pendiri BSB Temukan Inovasi Teknologi Pirolisis, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar
Sebuah Mobil Tabraki...
Sebuah Mobil Tabraki Kerumunan Pawai LGBTQ, 1 Tewas, 17 Luka
Wanita Keturunan China...
Wanita Keturunan China yang Magang di Markas Militer NATO Ditangkap atas Tuduhan Mata-mata
Berita Terkini
Borong 20 Pesawat Boeing...
Borong 20 Pesawat Boeing Rp126 T, Taipan Filipina Selamatkan Maskapai Nasional dari Kebangkrutan
IHSG Senin Depan Diprediksi...
IHSG Senin Depan Diprediksi Lanjut Koreksi, Cermati Area 6.074-6.146
Ramalan Goldman Sachs...
Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel
Ini Daftar Lengkap 60...
Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
PLN EPI Perluas Kemitraan...
PLN EPI Perluas Kemitraan Global Bangun Rantai Pasok Hidrogen Hijau
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
Infografis
3 Alasan Sananta Tak...
3 Alasan Sananta Tak Dipanggil Timnas Lawan Bahrain dan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved