AS Cabut Status Negara Berkembang RI, Luhut: Tak Benar Ada Strategi Licik

Selasa, 25 Februari 2020 - 17:02 WIB
AS Cabut Status Negara...
AS Cabut Status Negara Berkembang RI, Luhut: Tak Benar Ada Strategi Licik
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengingatkan, jangan berburuk sangka terkait dengan langkah United States Trade Representative (USTR) yang mencabut status negara berkembang Indonesia. Pasalnya terang Luhut, hal ini tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga 26 negara lain seperti Vietnam dan India.

"Jadi ada 26 negara yang dikategorikan itu, termasuk Indonesia, Vietnam, dan India juga, tapi Generalized System of Preference (GSP) itu ada deal sendiri, jadi kalau ada orang bilang ada strategi licik dan segala macam itu tidak boleh, jangan buruk sangka," terang Menko Luhut di Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Untuk diketahui GSP merupakan program pemerintah AS dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang dengan membebaskan bea masuk ribuan produk asal pengekspor tersebut yang akan masuk ke negeri Paman Sam -julukan AS- itu. Lebih lanjut Ia menekankan, pencabutan status negara berkembang Indonesia oleh USTR tidak akan berpengaruh terhadap fasililitas GSP.

“USTR cabut status itu tidak berpengaruh ke GSP review. Bukan hanya Indonesia, ada Vietnam dan India juga. Pembicaraan dengan Lightizer (Robert Lightizer dari USTR) mengenai GSP, itu setelah sekian belas tahun telah selesai. Nanti tanggal 2 April, Tim dari USTR akan bertemu dengan Tim dari Kementan dan Kemendag untuk menyelesaikan secara mendetail. Kita bisa mendapat fasilitas kira-kira sebesar USD2,4 miliar dan ini akan membuat kita tetap kompetitif,” paparnya.

Menko Luhut juga menjelaskan, bahwa Pemerintah Indonesia berencana akan menaikkan level GSP menjadi Limited Free Agreement dan ia juga mengatakan apabila ada isu terkait Indonesia yang tidak lagi dikategorikan negara berkembang itu adalah dua hal berbeda.

“Kemudian mengenai GSP kita punya pikiran untuk tingkatkan menjadi Limited Free Trade Agreement, jadi kita tingkatkan satu level lagi tetapi belum sampai pada Free Trade Agreement. Karena kalau sampai level itu, akan dapat persetujuan cukup panjang, jadi kita in between, target kita akan kesitu," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Luhut Paparkan Kondisi...
Luhut Paparkan Kondisi Ekonomi dan Iklim Investasi RI di Tengah Pandemi
Bahlil Sebut Negara...
Bahlil Sebut Negara Maju Pakai Standar Ganda dalam Perdagangan Karbon
Luhut Sebut Indonesia...
Luhut Sebut Indonesia Negara Tujuan Investasi Nomor 4 di Dunia
Sri Mulyani Ramal Ekonomi...
Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Minus, Luhut: Lebih Baik di Antara Emerging Market
Indonesia Siap Bantu...
Indonesia Siap Bantu Negara-negara Kepulauan Atasi Perubahan Iklim
Hadapi Tantangan Masa...
Hadapi Tantangan Masa Depan, Begini Desain Strategi Investasi RI
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
43 menit yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
45 menit yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
1 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
2 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
2 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
2 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved