Diguncang Tarif Trump, Pasar Global Kacau Balau
Jum'at, 04 April 2025 - 07:49 WIB
loading...
A
A
A
Sebelumnya, Trump mengumumkan tarif baru yang mencakup bea masuk 10 persen pada semua impor, serta tarif lebih tinggi untuk negara-negara yang dianggap sebagai penyumbang defisit terbesar pada perdagangan AS. China menghadapi tambahan tarif 34 persen di atas bea masuk 20 persen yang sudah berlaku. Uni Eropa, Jepang, dan negara lain akan dikenakan tarif antara 20 persen hingga 49 persen.
Tarif umum ini mulai berlaku pada 5 April, sementara tarif khusus negara tertentu akan diterapkan mulai 9 April. Trump beralasan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi industri dalam negeri AS serta mengurangi utang nasional. Kebijakan ini memicu reaksi negatif dari para analis dan investor.
"Tarif yang diumumkan lebih agresif dari perkiraan, terutama bagi Eropa dan China, dengan tarif mencapai 20 persen hingga 54 persen," tulis analis Barclays dalam sebuah catatan. Mereka memperingatkan bahwa ketidakpastian akibat tarif ini dapat meningkatkan risiko resesi, membuat pasar saham berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut sebelum pulih.
Ekonom dari High Frequency Economics, Carl Weinberg, memperkirakan bahwa kebijakan tarif ini dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) AS hingga 10% pada kuartal kedua 2025, berpotensi mendorong ekonomi AS ke dalam resesi setelah kontraksi kecil yang diprediksi pada kuartal pertama.
Weinberg juga memperkirakan tarif akan mengurangi pendapatan rumah tangga atau keuntungan korporasi AS hingga USD741 miliar, atau lebih jika memasukkan tarif pada baja, aluminium, serta perdagangan dengan Kanada dan Meksiko.
Tarif umum ini mulai berlaku pada 5 April, sementara tarif khusus negara tertentu akan diterapkan mulai 9 April. Trump beralasan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi industri dalam negeri AS serta mengurangi utang nasional. Kebijakan ini memicu reaksi negatif dari para analis dan investor.
"Tarif yang diumumkan lebih agresif dari perkiraan, terutama bagi Eropa dan China, dengan tarif mencapai 20 persen hingga 54 persen," tulis analis Barclays dalam sebuah catatan. Mereka memperingatkan bahwa ketidakpastian akibat tarif ini dapat meningkatkan risiko resesi, membuat pasar saham berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut sebelum pulih.
Ekonom dari High Frequency Economics, Carl Weinberg, memperkirakan bahwa kebijakan tarif ini dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) AS hingga 10% pada kuartal kedua 2025, berpotensi mendorong ekonomi AS ke dalam resesi setelah kontraksi kecil yang diprediksi pada kuartal pertama.
Weinberg juga memperkirakan tarif akan mengurangi pendapatan rumah tangga atau keuntungan korporasi AS hingga USD741 miliar, atau lebih jika memasukkan tarif pada baja, aluminium, serta perdagangan dengan Kanada dan Meksiko.
Lihat Juga :