Peluang Resesi Ekonomi Amerika Makin Lebar, Goldman Sachs: 45%
Selasa, 08 April 2025 - 15:27 WIB
loading...
Goldman Sachs meramalkan kemungkinan resesi AS semakin lebar, ketika tarif baru Presiden Donald Trump diperingatkan bakal menjadi tekanan buat sektor keuangan dan membebani investasi. Foto/Dok RT
A
A
A
JAKARTA - Goldman Sachs meramalkan kemungkinan resesi Amerika Serikat (AS) semakin lebar, ketika tarif baru Presiden Donald Trump diperingatkan bakal menjadi tekanan buat sektor keuangan dan membebani investasi. Bank Wall Street itu meningkatkan kemungkinan penurunan ekonomi Paman Sam -julukan AS- menyusul kenaikan tarif besar-besaran Donald Trump .
Dalam catatan penelitian berjudul 'US Daily: Countdown to Recession' yang dirilis awal pekan ini, Goldman meningkatkan kemungkinan penurunan ekonomi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 45%, naik dari 35% pada minggu sebelumnya. Goldman Sachs juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS di 2025 dari 1,0% menjadi 0,5%.
Baca Juga: Risiko Resesi Amerika Semakin Besar, Begini Isi Ramalan Goldman Sachs
Revisi tersebut menyusul pengumuman Trump pada 2 April tentang tarif minimum 10% untuk semua impor AS dan bea "timbal balik" sebesar 11% hingga 50% yang menargetkan puluhan negara mitra dagang AS. Uni Eropa (UE) akan terkena tarif 20%, dan China mencapai 34% ketika kenaikan tarif impor mulai berlaku pada 9 April.
Aksi balasan dilakukan Beijing pada barang-barang AS, sementara negara-negara lain mengutuk langkah tersebut dan bersumpah untuk melakukan tindakan serupa. Di sisi lain tidak sedikit juga yang melakukan negosiasi demi mendapatkan sedikit keringanan dari AS.
Dalam catatan penelitian berjudul 'US Daily: Countdown to Recession' yang dirilis awal pekan ini, Goldman meningkatkan kemungkinan penurunan ekonomi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 45%, naik dari 35% pada minggu sebelumnya. Goldman Sachs juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS di 2025 dari 1,0% menjadi 0,5%.
Baca Juga: Risiko Resesi Amerika Semakin Besar, Begini Isi Ramalan Goldman Sachs
Revisi tersebut menyusul pengumuman Trump pada 2 April tentang tarif minimum 10% untuk semua impor AS dan bea "timbal balik" sebesar 11% hingga 50% yang menargetkan puluhan negara mitra dagang AS. Uni Eropa (UE) akan terkena tarif 20%, dan China mencapai 34% ketika kenaikan tarif impor mulai berlaku pada 9 April.
Aksi balasan dilakukan Beijing pada barang-barang AS, sementara negara-negara lain mengutuk langkah tersebut dan bersumpah untuk melakukan tindakan serupa. Di sisi lain tidak sedikit juga yang melakukan negosiasi demi mendapatkan sedikit keringanan dari AS.
Lihat Juga :