Trump Ancam Jatuhkan Tarif 50% ke Produk Uni Eropa

Sabtu, 24 Mei 2025 - 09:30 WIB
loading...
Trump Ancam Jatuhkan...
Presiden AS, Donald Trump menghidupkan kembali perang dagang dengan Uni Eropa (UE), usai mengancam bakal menjatuhkan tarif 50%. Foto/Dok Reuters
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS), ">Donald Trump menghidupkan kembali perang dagang dengan Uni Eropa (UE), usai mengancam bakal menjatuhkan tarif 50% pada semua barang yang dikirim ke Amerika Serikat dari Uni Eropa. Peringatan terhadap Uni Eropa hanya beberapa jam sebelum kedua belah pihak dijadwalkan melakukan pembicaraan perdagangan.

Pada bulan lalu, Trump mengumumkan tarif 20% pada sebagian besar barang yang berasal dari Uni Eropa, namun kemudian Ia menguranginya menjadi 10% hingga 8 Juli untuk memberikan waktu melakukan negosiasi.

Dalam pernyataan setelah pertemuan, Uni Eropa mengatakan tetap berkomitmen untuk mengamankan kesepakatan, sambil sekali lagi memperingatkan bahwa mereka siap untuk membalas. Baca Juga: Trump Tutup Pintu Negosiasi Tarif dengan 150 Negara, Bagaimana Nasib Indonesia?

"Perdagangan UE-AS tidak tertandingi dan harus dipandu oleh saling menghormati, bukan ancaman. Kami siap mempertahankan kepentingan kami," tulis Komisaris Perdagangan Uni Eropa MaroS Sefcovic di media sosial.

Dalam pernyataannya kepada para reporter di Gedung Putih pada Jumat sore, Trump menyatakan ketidaksabarannya dengan proses negosiasi yang dinilai lamban. Ia mengatakan bahwa rencananya untuk menaikkan tarif pada 1 Juni 2025 sudah ditetapkan.

"Saya tidak mencari kesepakatan - kami telah menetapkannya," tambah Trump, sebelum mengutarakan bahwa investasi besar perusahaan Eropa di AS mungkin membuatnya terbuka untuk melakukan penundaan.

"Kita akan lihat apa yang terjadi, tetapi saat ini akan berlangsung pada 1 Juni," katanya.

Para analis mengatakan masih harus dilihat apakah rencana Trump akan menjadi kenyataan. Ahli perdagangan Aslak Berg dari Centre for European Reform mengatakan kepada BBC, bahwa ia berpikir bahwa hal itu upaya Trump untuk meningkatkan kekuatan tawar menjelang negosiasi.

"Tapi kenyataannya adalah UE tidak akan bergerak. Mereka akan tetap tenang untuk terus melanjutkan, dan ini akan menjadi diskusi yang sangat sulit," katanya.

Baca Juga: China Mengancam Negara-negara yang Negosiasi Tarif dengan Trump

Ia juga menerangkan, bahwa peningkatan kembali tarif oleh Trump menjadi preseden buruk untuk kesepakatan lain yang mungkin sedang dikerjakan AS. "Untuk sementara waktu ada persepsi ini ... bahwa Trump sedang mundur, bahwa kita akan memiliki sedikit ketenangan dan stabilitas. Ini menunjukkan bahwa semua itu sama sekali tidak benar," katanya.


Perang Dagang Baru

Uni Eropa merupakan salah satu mitra dagang terbesar AS, dengan mengirimkan lebih dari USD600 miliar barang ke AS tahun lalu dan membeli sekitar USD370 miliar barang, menurut data resmi pemerintah AS. Keluhan Trump tentang Eropa difokuskan pada hubungan perdagangan yang tidak seimbang, karena Uni Eropa menjual lebih banyak barang ke AS daripada yang dibelinya dari Amerika.

Ia menyalahkan defisit perdagangan ini pada kebijakan yang ia katakan tidak adil bagi perusahaan-perusahaan Amerika, dan Trump secara khusus telah mengungkapkan kekhawatiran tentang kebijakan yang terkait dengan mobil dan produk pertanian.

Trump menargetkan penerapan tarif 20% terhadap produk dari Uni Eropa dalam pengumuman yang disebutnya sebagai Hari Pembebasan bulan lalu, yang memicu banyak negosiasi antara AS dan negara-negara di seluruh dunia.

Sementara beberapa negara, terutama yang lebih kecil mengambil pendekatan yang bersikap lunak. Tidak dengan Uni Eropa, China dan Kanada, yang memilih menanggapi tarif Trump dengan lebih keras terhadap ancaman tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka siap membalas dengan menaikkan tarifnya sendiri terhadap produk-produk AS.
(akr)
Lihat Juga :
wa-channel
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Rekomendasi
Citroen Berlingo Baru...
Citroen Berlingo Baru Akan Kembali dengan Desain MPV Kecil Praktis
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Uruguay Comeback atas Cape Verde di Babak Pertama
Prabowo Minta Aset Negara...
Prabowo Minta Aset Negara Dikelola Maksimal untuk Masyarakat
Berita Terkini
Dibayangi Outflow Rp4,5...
Dibayangi Outflow Rp4,5 Triliun, IHSG Pekan Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Spesial, Investor Patriot...
Spesial, Investor Patriot Bond Dilindungi dari Tuntutan Pidana hingga Pajak
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Terpopuler
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved