Pertaruhan Ekonomi Rusia di Tengah Perang Iran vs Israel
Kamis, 19 Juni 2025 - 13:01 WIB
loading...
Ketika Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, pejabat Rusia menggambarkan eskalasi saat ini di Timur Tengah sebagai sesuatu yang mencemaskan dan berbahaya. Di sisi lain media Rusia justru menekankan potensi positif. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketika Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, pejabat Rusia menggambarkan eskalasi saat ini di Timur Tengah sebagai sesuatu yang mencemaskan dan berbahaya. Di sisi lain media Rusia justru menekankan potensi positif perang Israel vs Iran bagi Moskow.
Di antara beberapa keuntungan yang bisa didapatkan Rusia yakni, kenaikan harga minyak global yang diperkirakan akan meningkatkan kas Rusia. Ditambah teralihkannya perhatian global dari perang Rusia di Ukraina . Dimana Kiev telah dilupakan menjadi tagline di Moskovsky Komsomolets.
Selain itu jika tawaran Kremlin untuk menjadi penengah dalam konflik tersebut diterima, Rusia dapat menggambarkan dirinya sebagai pemain kunci di Timur Tengah dan sebagai pembawa kedamaian, meski dengan segala perbuatannya di Ukraina.
Baca Juga: Inggris dan Trump Beda Arah Soal Sanksi Baru Rusia
Namun, semakin lama operasi militer Israel berlangsung, semakin besar kesadaran bahwa Rusia memiliki banyak yang harus dipertaruhkan. "Peningkatan konflik ini membawa risiko serius dan potensi peningkatan biaya bagi Moskow," tulis pengamat politik Rusia, Andrei Kortunov di harian bisnis Kommersant.
"Faktanya adalah bahwa Rusia tidak mampu mencegah serangan massal oleh Israel terhadap suatu negara yang lima bulan yang lalu (Rusia) menandatangani kemitraan strategis komprehensif," lanjutnya.
Sementara itu Moskow belum bersikap, dimana tidak ada suara lantang yang mengutuk tindakan Israel, dan belum siap untuk memberikan bantuan militer kepada Iran. Kesepakatan kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani Vladimir Putin dan Presiden Masoud Pezeshkian awal tahun ini bukanlah aliansi militer. Itu tidak mengharuskan Moskow untuk membela Teheran. Namun, saat itu, Moskow membicarakannya dengan bersemangat.
Dalam enam bulan terakhir, Moskow telah kehilangan satu sekutu kunci di Timur Tengah, Bashar al-Assad. Setelah pemimpin Suriah itu dilengserkan pada bulan Desember lalu, ia ditawarkan suaka di Rusia.
Prospek perubahan rezim di Iran, pemikiran tentang kehilangan satu mitra strategis lagi di wilayah itu, akan menjadi perhatian besar bagi Moskow. Mengomentari perkembangan di Timur Tengah, Moskovsky Komsomolets menyimpulkan: "Dalam politik global saat ini, perubahan besar sedang terjadi secara langsung yang akan memengaruhi kehidupan di negara kita, baik secara langsung maupun tidak langsung."
Vladimir Putin akan menghabiskan sebagian besar minggu ini di St Petersburg di mana kota tersebut menyelenggarakan Forum Ekonomi Internasional tahunan. Acara ini pernah dijuluki "Davos Rusia", tetapi label tersebut tidak benar-benar berlaku sekarang.
Baca Juga: Pembatasan Harga Minyak Rusia Bakal Dipatok USD45/Barel, Kremlin Peringatkan UE
Dalam beberapa tahun terakhir, para eksekutif utama dari perusahaan besar Barat telah menjauh - terutama sejak invasi Rusia yang berskala penuh ke Ukraina. Namun, para penyelenggara mengklaim bahwa tahun ini perwakilan dari lebih dari 140 negara dan wilayah akan menghadiri International Economic Forum.
Otoritas Rusia hampir pasti akan menggunakan acara tersebut untuk mencoba menunjukkan bahwa upaya mengisolasi Rusia akibat perang di Ukraina telah gagal. Meskipun bisa jadi sebuah forum ekonomi, namun situasi geopolitis tidak pernah jauh.
Di antara beberapa keuntungan yang bisa didapatkan Rusia yakni, kenaikan harga minyak global yang diperkirakan akan meningkatkan kas Rusia. Ditambah teralihkannya perhatian global dari perang Rusia di Ukraina . Dimana Kiev telah dilupakan menjadi tagline di Moskovsky Komsomolets.
Selain itu jika tawaran Kremlin untuk menjadi penengah dalam konflik tersebut diterima, Rusia dapat menggambarkan dirinya sebagai pemain kunci di Timur Tengah dan sebagai pembawa kedamaian, meski dengan segala perbuatannya di Ukraina.
Baca Juga: Inggris dan Trump Beda Arah Soal Sanksi Baru Rusia
Namun, semakin lama operasi militer Israel berlangsung, semakin besar kesadaran bahwa Rusia memiliki banyak yang harus dipertaruhkan. "Peningkatan konflik ini membawa risiko serius dan potensi peningkatan biaya bagi Moskow," tulis pengamat politik Rusia, Andrei Kortunov di harian bisnis Kommersant.
"Faktanya adalah bahwa Rusia tidak mampu mencegah serangan massal oleh Israel terhadap suatu negara yang lima bulan yang lalu (Rusia) menandatangani kemitraan strategis komprehensif," lanjutnya.
Sementara itu Moskow belum bersikap, dimana tidak ada suara lantang yang mengutuk tindakan Israel, dan belum siap untuk memberikan bantuan militer kepada Iran. Kesepakatan kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani Vladimir Putin dan Presiden Masoud Pezeshkian awal tahun ini bukanlah aliansi militer. Itu tidak mengharuskan Moskow untuk membela Teheran. Namun, saat itu, Moskow membicarakannya dengan bersemangat.
Dalam enam bulan terakhir, Moskow telah kehilangan satu sekutu kunci di Timur Tengah, Bashar al-Assad. Setelah pemimpin Suriah itu dilengserkan pada bulan Desember lalu, ia ditawarkan suaka di Rusia.
Prospek perubahan rezim di Iran, pemikiran tentang kehilangan satu mitra strategis lagi di wilayah itu, akan menjadi perhatian besar bagi Moskow. Mengomentari perkembangan di Timur Tengah, Moskovsky Komsomolets menyimpulkan: "Dalam politik global saat ini, perubahan besar sedang terjadi secara langsung yang akan memengaruhi kehidupan di negara kita, baik secara langsung maupun tidak langsung."
Vladimir Putin akan menghabiskan sebagian besar minggu ini di St Petersburg di mana kota tersebut menyelenggarakan Forum Ekonomi Internasional tahunan. Acara ini pernah dijuluki "Davos Rusia", tetapi label tersebut tidak benar-benar berlaku sekarang.
Baca Juga: Pembatasan Harga Minyak Rusia Bakal Dipatok USD45/Barel, Kremlin Peringatkan UE
Dalam beberapa tahun terakhir, para eksekutif utama dari perusahaan besar Barat telah menjauh - terutama sejak invasi Rusia yang berskala penuh ke Ukraina. Namun, para penyelenggara mengklaim bahwa tahun ini perwakilan dari lebih dari 140 negara dan wilayah akan menghadiri International Economic Forum.
Otoritas Rusia hampir pasti akan menggunakan acara tersebut untuk mencoba menunjukkan bahwa upaya mengisolasi Rusia akibat perang di Ukraina telah gagal. Meskipun bisa jadi sebuah forum ekonomi, namun situasi geopolitis tidak pernah jauh.
(akr)
Lihat Juga :