Maksud Hati Geliatkan Ekonomi lewat New Normal, Justru Kasus Covid-19 Meninggi
Kamis, 10 September 2020 - 00:17 WIB
loading...
Kebijakan pemerintah memilih cara new normal tidak terbukti menggenjot aktivitas ekonomi. Di tengah daya beli rendah, juga semakin diperparah angka penyebaran covid-19 semakin tinggi. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Kebijakan pemerintah memilih cara new normal tidak terbukti menggenjot aktivitas ekonomi . Di tengah daya beli rendah, juga semakin diperparah angka penyebaran covid-19 semakin tinggi. IHSG hari ini juga terus melemah ke level 5.149,38 atau melemah 1,81%.
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini akses informasi sangat mudah sehingga orang semakin paham tingkat penyebaran covid-19 dan kasus kematiannya juga masih tinggi. Covid-19 saat ini masih menjadi ancaman sehingga persepsi masyarakat kondisi masih belum aman dan menghambat aktivitas ekonomi.
(Baca Juga: Sri Mulyani: Selama Covid-19 Merajalela, Skenario Pertumbuhan Ekonomi Terancam )
Bahkan data BI menunjukkan keyakinan konsumen dalam 6 bulan negatif. "Meskipun ada pergerakan di bulan Agustus tapi umumnya indeks keyakinan menunjukkan arah pesimis," ujar Tauhid di Jakarta.
Dia menilai, relasi kasus covid-19 yang relatif tinggi membuat ketidaknyamanan di kelompok ekonomi menengah atas. Dampak langsungnya adalah nafsu belanja atau permintaan menjadi rendah. Walaupun pemerintah sudah berusaha keras memberi stimulus tapi hanya habis tidak bersisa karena nilai bantuan yang kecil.
Menurutnya untuk menggerakkan permintaan masyarakat berarti butuh prasyarat minimal sekitar 55-60% kebutuhan pokok sudah terpenuhi. "Sementara dari bantuan pemerintah hanya mampu menutupi 30% saja. Ini karena cakupan penerimanya yang disasar melebar sementara kemampuan pemerintah terbatas," ujar dia.
(Baca Juga: Jagat Hiburan Terkoyak Pandemi )
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini akses informasi sangat mudah sehingga orang semakin paham tingkat penyebaran covid-19 dan kasus kematiannya juga masih tinggi. Covid-19 saat ini masih menjadi ancaman sehingga persepsi masyarakat kondisi masih belum aman dan menghambat aktivitas ekonomi.
(Baca Juga: Sri Mulyani: Selama Covid-19 Merajalela, Skenario Pertumbuhan Ekonomi Terancam )
Bahkan data BI menunjukkan keyakinan konsumen dalam 6 bulan negatif. "Meskipun ada pergerakan di bulan Agustus tapi umumnya indeks keyakinan menunjukkan arah pesimis," ujar Tauhid di Jakarta.
Dia menilai, relasi kasus covid-19 yang relatif tinggi membuat ketidaknyamanan di kelompok ekonomi menengah atas. Dampak langsungnya adalah nafsu belanja atau permintaan menjadi rendah. Walaupun pemerintah sudah berusaha keras memberi stimulus tapi hanya habis tidak bersisa karena nilai bantuan yang kecil.
Menurutnya untuk menggerakkan permintaan masyarakat berarti butuh prasyarat minimal sekitar 55-60% kebutuhan pokok sudah terpenuhi. "Sementara dari bantuan pemerintah hanya mampu menutupi 30% saja. Ini karena cakupan penerimanya yang disasar melebar sementara kemampuan pemerintah terbatas," ujar dia.
(Baca Juga: Jagat Hiburan Terkoyak Pandemi )
Lihat Juga :