BRICS Tolak Pembayaran Dolar AS, 50% Transaksi Gunakan Yuan China

Senin, 28 Juli 2025 - 07:36 WIB
loading...
BRICS Tolak Pembayaran...
Blok BRICS semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan lintas negara anggotanya. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Blok BRICS semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan lintas negara anggotanya. Sebuah laporan dari lembaga pemikir independen untuk bank sentral, OMFIF mengungkapkan 50% transaksi perdagangan di antara negara-negara BRICS kini diselesaikan menggunakan yuan China dan mata uang lokal lainnya.

Pergeseran ini mencerminkan kuatnya agenda dedolarisasi yang diusung oleh BRICS, sebuah langkah secara bertahap mengurangi dominasi dolar AS di pasar global. Selain yuan China, berbagai mata uang nasional lainnya juga digunakan untuk memfasilitasi penyelesaian lintas batas, semakin memperkuat tujuan blok ini untuk mengurangi penggunaan mata uang Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Indonesia Lanjutkan Aksi Dedolarisasi, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp191 Triliun

Dilansir dari Watcher Guru, China menjadi motor utama di balik dorongan penggunaan yuan dalam transaksi antaranggota BRICS. Sebagai contoh, sekitar 80% dari seluruh kesepakatan perdagangan antara China dan Rusia kini diselesaikan menggunakan mata uang nasional mereka, seperti yuan dan rubel.

Tren ini juga terlihat dalam hubungan bilateral lainnya. Rusia dan India telah melakukan pembayaran minyak mentah menggunakan rubel dan rupee. Langkah ini terbukti menguntungkan India, yang berhasil menghemat lebih dari USD7 miliar dalam biaya valuta asing dengan mengesampingkan dolar AS untuk perdagangan minyak dengan Rusia.

Meski demikian, gambaran makroekonomi global menunjukkan perspektif berbeda. Meskipun yuan China mendominasi 50% transaksi infra-BRICS, pangsa yuan dalam total pembayaran global masih relatif kecil hanya sekitar 2%.

Di sisi lain, dolar AS masih memegang kendali penuh dengan mendominasi 88% dari seluruh transaksi dan penyelesaian valuta asing global. Perbedaan yang mencolok ini menunjukkan bahwa yuan China belum berada dalam posisi untuk secara signifikan menantang dominasi dolar AS di pasar keuangan internasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Matikan Selat Hormuz!...
Matikan Selat Hormuz! AS dan Irak Deal Bangun Jalur Pipa Minyak Senilai Rp1.074 triliun
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
Rekomendasi
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Mutasi Kejagung, Dirdik...
Mutasi Kejagung, Dirdik Jampidsus hingga Dirdik III Jamintel Diganti
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
AS Mulai Bagikan Info...
AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China-Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved