Dapat Perlakuan Khusus, Tarif CPO dan Nikel Masuk AS Kurang dari 19%

Jum'at, 01 Agustus 2025 - 14:54 WIB
loading...
Dapat Perlakuan Khusus,...
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam podcast To The Po!nt Aja! yang tayang di kanal YouTube SINDOnews, Kamis (31/8). FOTO/Tangkapan Layar/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia berhasil menegosiasikan penurunan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah komoditas strategis nasional termasuk kelapa sawit (CPO) dan produk turunan nikel.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan tarif yang semula sebesar 32 persen kini turun menjadi 19 persen, dan untuk komoditas tertentu bahkan bisa ditekan lebih rendah dari angka tersebut.

"Amerika adalah pasar ekspor utama Indonesia dengan kontribusi sekitar 11 persen terhadap total ekspor nasional. Komoditas utama kita yang masuk ke sana adalah produk padat karya seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur," ujar Airlangga dalam podcast To The Po!nt Aja! yang tayang di kanal YouTube SINDOnews, Kamis (31/8).

Baca Juga: Airlangga: Fenomena Rohana dan Rojali Bukan Daya Beli Turun, tapi Pilih Belanja Online

Airlangga menegaskan penurunan tarif sangat penting demi menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global, khususnya AS. "Kalau tarifnya tinggi, produk kita tidak akan kompetitif, dan itu bisa menyebabkan penurunan ekspor. Padahal, sektor padat karya ini menyerap langsung 5,3 juta tenaga kerja, dan secara tidak langsung berdampak pada 15 juta jiwa," kata dia.

Negosiasi penurunan tarif tersebut dilakukan secara komprehensif dalam lima paket kerja sama yang ditawarkan Indonesia kepada AS, mencakup bidang perdagangan, investasi, layanan digital, ekonomi strategis, serta tata kelola data pribadi.

"Lima paket ini disambut positif oleh AS. Kita menjadi negara pertama yang memberikan respons tertulis terhadap kebijakan liberalisasi tarif mereka," ujar Airlangga.

Lebih lanjut, penurunan tarif tidak dilakukan melalui skema barter, sebagaimana isu yang sempat beredar di media sosial. "Pembelian 50 pesawat Boeing oleh Garuda Indonesia tidak ada kaitannya dengan negosiasi penurunan tarif. Itu murni berdasarkan kebutuhan nasional," tandasnya.

Khusus kelapa sawit, Airlangga menyatakan, pemerintah sedang mendorong agar tarif bisa ditekan lebih jauh, bahkan mendekati nol persen. "Amerika cenderung memberikan tarif rendah untuk barang yang tidak bisa mereka produksi sendiri. Sawit termasuk di antaranya. Kami sedang negosiasi agar tarifnya bisa sangat rendah," jelasnya.

Sementara untuk produk berbasis nikel, AS disebut menginginkan akses terhadap processed mineral atau mineral olahan yang telah melalui tahap industri lanjutan. Produk seperti ini sebelumnya dikenai tarif hingga 50 persen karena termasuk sektor sensitif. "Kita usulkan agar tarifnya bisa turun karena termasuk dalam kategori critical mineral," katanya.

Baca Juga: Menko Airlangga: Tak Ada Barter Pesawat dan Data Pribadi dalam Kesepakatan Tarif AS

Selain memberi keuntungan bagi Indonesia, kesepakatan ini juga menguntungkan pihak Amerika. Komoditas pertanian seperti gandum, kedelai, dan pakan ternak tetap dikenai tarif nol persen saat masuk ke Indonesia. "Kalau tarifnya kita naikkan, bisa menimbulkan inflasi pada produk turunan seperti tahu dan tempe. Dengan nol persen, harga pangan tetap terkendali," ujar Airlangga.

Pemerintah memandang kesepakatan dagang ini sebagai win-win solution yang strategis bagi kedua negara. "Amerika melihat Indonesia sebagai mitra penting. Bahkan negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand masih dalam tahap awal negosiasi," ungkapnya.

Airlangga juga mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto terlibat langsung dalam merumuskan substansi negosiasi. "Pak Presiden sendiri yang mendikte poin-poin pentingnya. Saya tinggal menyusun dan menyampaikannya ke tim negosiator," ungkap Airlangga.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Intervensi Rupiah Kuras...
Intervensi Rupiah Kuras Cadangan Devisa Rp37 Triliun per Bulan, Sistem Keuangan Dinilai Tak Sehat
Rupiah Tertekan, Ichsanuddin...
Rupiah Tertekan, Ichsanuddin Noorsy: Beban Fiskal dan Sektor Riil Kian Berat
Bertemu PM Belarus,...
Bertemu PM Belarus, Airlangga Dorong Penguatan Kerja Sama Pangan hingga Energi
Airlangga Kunjungi Belarus,...
Airlangga Kunjungi Belarus, Bidik Kerja Sama Teknologi Modern Alat Pertanian
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, China dan India Terancam Gagal Panen Imbas Kelangkaan Pupuk
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Misteri Rumah Rimar...
Misteri Rumah Rimar Idol Terungkap! Sosok Bermuka Batu Bertaring Pernah Muncul di Depannya
The Sacred Riana Akhirnya...
The Sacred Riana Akhirnya Cerita, Sosok Ini Masih Jadi Tanda Tanya
Rekomendasi
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
Kelakar Prabowo soal...
Kelakar Prabowo soal Nama Panglima TNI dan Kapolri: Susah Diganti
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Berita Terkini
Prabowo Prediksi Indonesia...
Prabowo Prediksi Indonesia Swasembada BBM 3 Tahun Lagi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved