Menjaga Ekonomi Perang, Rusia Diramal Sedang Mempersiapkan Konfrontasi Skala Besar

Kamis, 07 Agustus 2025 - 09:09 WIB
loading...
Menjaga Ekonomi Perang,...
Mesin perang Rusia telah menjadi bagian yang sangat integral dari motor ekonominya, sehingga industri militer Moskow kemungkinan akan terus berkembang, bahkan setelah pertempuran di Ukraina berakhir. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Mesin perang Rusia telah menjadi bagian yang sangat integral dari motor ekonominya, sehingga industri militer Moskow kemungkinan akan terus berkembang, bahkan setelah pertempuran di Ukraina berakhir. Hal ini diungkapkan oleh laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).

"Akhir permusuhan tidak akan mengarah pada pemotongan radikal investasi militer," tulis analis CSIS dalam laporan yang diterbitkan belum lama ini.

Kini memasuki tahun keempat, perang Rusia Ukraina terus berlanjut, meskipun pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin menghadapi sanksi besar-besaran dari Barat. Dan meskipun tanda-tanda resesi, namun ekonomi Rusia mungkin masih dapat mendukung upaya perang selama beberapa tahun lagi, kata laporan tersebut.

Baca Juga: Barat Frustrasi, Ribuan Sanksi Tak Mampu Lumpuhkan Ekonomi Rusia

Pengeluaran pertahanan diperkirakan akan mencapai rekor pasca-Uni Soviet sebesar 6,3% dari PDB pada tahun 2025 dan bisa meningkat lebih tinggi, meskipun ada tanda-tanda perlambatan ekonomi atau resesi yang semakin meningkat.

"Ekonomi Rusia tampaknya berkelanjutan untuk beberapa tahun ke depan," tulis para analis CSIS.

Mereka memprediksi bahwa Kremlin dapat mempertahankan perang mereka setidaknya hingga 2027. Laporan CSIS muncul di tengah peningkatan pengawasan terhadap ekonomi Rusia.

Kegiatan manufaktur menyusut bulan lalu, dan lapangan kerja juga terpengaruh. Pertumbuhan PDB melambat menjadi 1,4% pada kuartal pertama, turun tajam dari 4,5% pada kuartal sebelumnya. Namun, Rusia telah melawan ekspektasi berkat kompleks industri militer yang terus berkembang.

"Setelah menjadi negara yang paling disanksi di dunia, negara itu berhasil mengatasi banyak kendala ekonomi, menjaga pendapatan dari penjualan energi tetap tinggi dan anggaran seimbang, berinvestasi di sektor militer dan industri pertahanan, meningkatkan produksi domestik senjata dan peralatan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi," tulis para analis dari think tank tersebut.

Paling penting disebutkan, ekonomi militer telah membangun basis luas pemangku kepentingan politik dan ekonomi -dari kalangan elit hingga pekerja biasa- yang mendapatkan manfaat dari konflik yang terus berlanjut. Hal itu membuat penarikan signifikan dalam aktivitas militer, mungkin berdampak negatif baik secara politik maupun ekonomi.

Bahkan jika gencatan senjata dicapai, Rusia mungkin masih dapat membangun kembali dan memperluas angkatan bersenjatanya selama dekade berikutnya. Baca Juga: Jatuhkan Tarif 25%, Trump Tak Peduli Jika Ekonomi Rusia dan India Mati Sama-sama

"Perubahan sosial ekonomi yang disebabkan oleh perang Rusia telah begitu signifikan sehingga proses militerisasi masyarakat kemungkinan besar tidak akan berhenti meskipun perang di Ukraina berakhir," tulis para analis CSIS seperti dilansir Bussiness Insider.

Posisi strategis Kremlin juga tidak melunak. CSIS memperkirakan Rusia sedang mempersiapkan konfrontasi jangka panjang dengan NATO, menggunakan perang untuk memodernisasi pasukannya dan menguji ketahanan Barat.

Di luar senjata konvensional, Rusia telah meningkatkan perang hibrida, termasuk serangan siber, disinformasi, sabotase, campur tangan politik, dan serangan terhadap infrastruktur kritis. Alat-alat ini memungkinkan Moskow untuk beroperasi secara agresif di berbagai front.

"Meskipun lebih inferior dibandingkan NATO dalam hal kemampuan konvensional, Rusia saat ini merupakan tantangan yang lebih besar bagi keamanan Eropa dibandingkan pada awal tahun 2022," ungkap para analis CSIS.

Kremlin sedang belajar dari kegagalan di masa lalu, beradaptasi dengan cepat, dan semakin percaya diri dengan apa yang mereka anggap Barat enggan menghentikannya.

"Reformasi militer besar-besaran yang sedang berlangsung di Moskow menunjukkan bahwa Rusia mungkin sedang mempersiapkan semacam konfrontasi dengan NATO dalam waktu dekat-termasuk bahkan perang konvensional berskala besar," tulis mereka.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Rekomendasi
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Amalan Hari Asyura 10...
Amalan Hari Asyura 10 Muharram: Puasa Asyura, Sedekah, dan Meluaskan Rezeki Keluarga
BMKG Ingatkan Dampak...
BMKG Ingatkan Dampak El Nino, Ancaman Karhutla dan Kekeringan Mengintai
Berita Terkini
IHSG Siang Anjlok 1,29%...
IHSG Siang Anjlok 1,29% ke 6.037, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved