Mengukur Urgensi Ide Lama Redenominasi Rupiah, Ekonom: Sudah Saatnya, Indonesia Siap

Jum'at, 14 November 2025 - 14:47 WIB
loading...
Mengukur Urgensi Ide...
Rencana redenominasi rupiah dinilai sudah saatnya direalisasikan, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebut gagasan tersebut telah lama dibahas dan memiliki urgensi yang kuat. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rencana redenominasi rupiah dinilai sudah saatnya direalisasikan, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebut gagasan tersebut telah lama dibahas dan memiliki urgensi yang kuat. Namun dengan catatan harus dijalankan dengan persiapan matang dan koordinasi lintas lembaga.

“Sebenarnya ide redenominasi itu sudah lama sekali. Dan yang setahu saya itu ide juga sudah muncul dari Bank Indonesia sudah lama sekali. Jadi memang itu ada urgensi ya,” ujar Sunarsip saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/11).

Sunarsip menegaskan implementasi redenominasi harus dilakukan bersama oleh Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, serta seluruh otoritas terkait, mulai dari regulasi hingga infrastruktur teknis. Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih siap dibanding satu dekade lalu.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Redenominasi Rupiah, Kelebihan dan Kekurangannya

“Kalau menurut saya sih segera jadi, segera direalisasikan. Tapi harus bergerak bersama-sama nih. Koordinasi antara Bank Indonesia dengan pemerintah di Kementerian Keuangan mempersiapkan infrastrukturnya,” katanya.



Adapun Sunarsip menjelaskan bahwa dominasi transaksi digital kini mengurangi hambatan teknis, termasuk biaya pencetakan uang baru . “Sekarang sudah banyak kan uang digital. Sehingga efek cost tambahan untuk mencetak uang itu sekarang mungkin sudah lebih berkurang dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu,” ujarnya.

Namun Ia menilai edukasi ke masyarakat menjadi elemen penting, terutama untuk meluruskan pemahaman yang sering salah kaprah antara redenominasi dan sanering. “Ini bukan Sanering. Kalau Sanering betul-betul kita punya uang seribu tinggal serupiah. Kalau sekarang ya, kalau redenominasi kan nggak,” tegasnya.

Terkait potensi dampak inflasi, Sunarsip menyebut kemungkinan kenaikan harga hanya akan terjadi pada masa transisi awal karena faktor psikologis masyarakat.“Pada awal-awal mungkin akan ada karena sekologis masyarakat akan kebawa itu. Tetapi pada akhirnya itu akan kembali normal,” katanya.

Ia menjelaskan sebagian masyarakat mungkin terdorong untuk berbelanja lebih cepat karena khawatir uangnya “tidak laku” setelah penyesuaian nilai nominal.Sunarsip menilai kekhawatiran pembulatan harga ke atas akan jauh lebih kecil dibanding masa lalu karena sebagian besar harga kini sudah berbentuk angka bulat, terutama akibat pertumbuhan transaksi digital.

“Coba perhatiin ya. Sudah jarang sekali itu, sekarang itu rata-rata harga barang itu sudah bulet,” jelasnya.

Sunarsip menyatakan sistem perbankan dan Bank Indonesia semestinya sudah mampu menyesuaikan jika kebijakan ini benar-benar dijalankan secara konsisten. Namun, regulasi dan payung hukum harus disiapkan terlebih dahulu.“Semestinya sudah ya. Bukan siap. Semestinya bisa diarahkan untuk mempersiapkan diri kalau memang konsisten mau dijalankan sejak hari ini,” katanya.

Baca Juga: 10 Negara Ini Pernah Melakukan Redenominasi, Bisa Jadi Contoh Indonesia

Menurutnya, perubahan pada sistem pencatatan perbankan dan teknologi informasi dapat dilakukan dalam waktu relatif cepat jika perencanaannya dimulai sejak awal. Dengan demikian, Sunarsip menegaskan pentingnya konsistensi pemerintah dan kerja bersama dengan DPR serta otoritas keuangan.

“Yang penting adalah disiapkan sejak sekarang, konsisten dijalankan, dijelaskan kira-kira manfaatnya apa,” ujarnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rekomendasi
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Ingat Besok Jadwal Puasa...
Ingat Besok Jadwal Puasa Tasua, Ini Bacaan Niatnya!
37 Organisasi Tolak...
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Agar Pelaku dan Pengkampanye LGBT Dipidana
Berita Terkini
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved