Siapkan Berbagai Stimulus, Industri Mobil Nasional Makin Dimanja

Selasa, 15 September 2020 - 10:02 WIB
loading...
Siapkan Berbagai Stimulus,...
Pemerintah menyiapkan berbagai stimulus untuk mengembalikan pertumbuhan sektor automotif, salah satunya dengan melakukan relaksasi pajak. Foto: dok/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah membuat kinerja berbagai industri merosot tajam, tidak terkecuali industri mobil nasional. Pemerintah pun menyiapkan berbagai stimulus untuk mengembalikan pertumbuhan sektor automotif tersebut. Salah satunya dengan melakukan relaksasi pajak.

Tidak tanggung-tanggung Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan relaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar 0% atau pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB). Usulan insentif ini tentu dapat dimengerti, karena aktivitas industri automotif memiliki efek pengganda yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja yang besar hingga memberdayakan pelaku usaha di sektor lainnya. (Baca: Berikut Sebaran Penambahan Kasus Corona di 34 Provinsi)

"Industri automotif itu mempunyai turunan begitu banyak. Ada tier 1, tier 2 yang begitu banyak," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, kemarin.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Agus mengaku sudah melaporkan usul tersebut kepada Menteri Keuangan. Diharapkan jika disetujui relaksasi pajak mobil baru 0% bisa berlangsung hingga Desember 2020.

Sebagai informasi, masyarakat yang membeli mobil dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 73 tahun 2019, yakni sebesar 15-70% untuk kendaraan bermotor angkutan orang. Besaran tarif disesuaikan dengan jumlah maksimal muatan setiap kendaraan dan juga isi silinder.

Menperin menjelaskan, upaya pemangkasan pajak pembelian mobil baru tersebut diyakini bisa mendongkrak daya beli masyarakat. Tujuannya yakni untuk memulihkan penjualan produk automotif yang turun selama pandemi. "Kalau kita beri perhatian agar daya beli masyarakat bisa terbantu dengan relaksasi pajak, maka kita terapkan. Kemudian pada gilirannya bisa membantu pertumbuhan industri manufaktur di bidang automotif tersebut," tandas Agus.

Menurut dia, kinerja industri automotif pada semester I/2020 melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini terjadi karena dampak pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020. Namun, pada semester II tahun ini, kata Agus, mulai ada perkembangan yang positif. (Baca juga: Sunan Giri Pendakwah Pertama di Bumi Kalimantan)

"Oleh karena itu, kami berharap relaksasi pajak tersebut bisa segera dijalankan agar bisa memacu kinerja industri automotif di Tanah Air dan pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.

Sebelumnya, relaksasi pajak pembelian mobil baru sempat digaungkan Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. Menurutnya, industri automotif saat ini butuh stimulus dari pemerintah agar terjadi peningkatan daya beli.

"Kami harapkan ada tax deduction untuk menstimulus daya beli, tapi tax deduction ini yang tidak mengurangi pendapatan pemerintah. Harapan kita ada di pajak daerah, kalau pajak bisa diturunkan, jumlah yang dijual bisa naik," paparnya.

Sekjen Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Kukuh Kumara menyambut baik sinyal positif dari pemerintah yang akan menerapkan pajak nol persen untuk kendaraan baru. “Itu kebijakan sangat tepat untuk meningkatkan daya saing dan meningkatkan volume penjualan domestik. Kami juga sudah membicarakan masalah tersebut dengan pemerintah,” ujar Kukuh di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, Malaysia dan Thailand sudah menerbitkan kebijakan untuk mendorong industri automotifnya tumbuh. Thailand membebaskan pajak bagi pemilik kendaraan yang menukar kendaraan lamanya dengan kendaraan baru. Sedangkan Malaysia memberikan diskon pajak 50% untuk pembelian mobil completely built up (CBU) dan membebaskan pajak untuk pembelian mobil produksi lokal.

Menurut Kukuh, Indonesia dihadapkan pada situasi tidak menguntungkan di masa pandemi ini. Sebagai contoh, realisasi penjualan domestik selama kuartal II menduduki peringkat lima di kawasan ASEAN di bawah Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)

Jika tidak diantisipasi, hal ini dikhawatirkan berdampak pada kepercayaan investor atau prinsipal untuk melakukan investasi pengembangan produk di Indonesia.

“Apalagi Thailand dan Vietnam sudah standar Euro 5, kita Euro 4 saja belum. Jika situasinya terus seperti sekarang, tentu akan berpengaruh terhadap kebijakan prinsipal, bisa saja mereka beralih ke negara-negara itu,” tuturnya.

Padahal, kata dia, industri automotif nasional menyerap 1,5 juta tenaga kerja dan melibatkan ribuan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai pemasok. Penjualan mobil di dalam negeri hingga akhir tahun ini diperkirakan hanya mencapai 600.000 unit.

“Beruntung industri automotif nasional masih bisa melakukan ekspor,” ungkapnya. Salah satu negara yang menjadi tujuan ekspor utama di masa pandemi ini, yakni Filipina. Sedangkan negara lain masih melakukan persiapan untuk impor kendaraan dari Indonesia. (Lihat videonya: DKI Jakarta Kembali Berlakukan PSBB Jilid II Mulai Hari Ini)

Gaikindo, kata Kukuh, berharap pemerintah daerah juga mendukung upaya pemerintah pusat menggerakkan industri automotif nasional. Salah satu caranya, yakni dengan menurunkan pajak kendaraan bermotor di daerah. Termasuk pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua. Penurunan pajak daerah tersebut diyakini akan memberikan stimulus bagi masyarakat yang akan membeli mobil. Sebab, pajak daerah termasuk pajak progresif menjadi salah satu pertimbangan masyarakat dalam membeli mobil. (Ferdi Rantung/Anton C)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
3 Opsi Sumber Pendapatan...
3 Opsi Sumber Pendapatan Daerah Potensial Selain Pajak Kendaraan Listrik
Viral Kendaraan Nunggak...
Viral Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Beli BBM, Pertamina: Hoaks
GIIAS 2025 Dibuka Hari...
GIIAS 2025 Dibuka Hari Ini, Pembuktian Industri Otomotif Masih Menyala
Cara Menghitung Opsen...
Cara Menghitung Opsen PKB, Benarkah Bikin Pajak Kendaraan Naik?
4 Jenis Mobil yang Dipungut...
4 Jenis Mobil yang Dipungut PPN 12% di 2025
Ketum Kadin Mendorong...
Ketum Kadin Mendorong Insentif Fiskal Bagi Industri Otomotif
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Pemprov DKI Hapus Sanksi Administratif PKB dan BBNKB
Pemprov Jakarta Bebaskan...
Pemprov Jakarta Bebaskan Denda Pajak Kendaraan selama 3 Bulan, Ini Syaratnya
Barisan Mobil Terbaru...
Barisan Mobil Terbaru yang Akan Tampil di GIIAS 2026 Diumumkan
Rekomendasi
QS WUR 2027, Ini 20...
QS WUR 2027, Ini 20 Universitas Terbaik di Indonesia yang Masuk Peringkat Dunia
Pusat Studi Kepolisian...
Pusat Studi Kepolisian ULM Inisiasi Deklarasi Bersama Anti-ODOL di Kalsel
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Poles 1.920 SPBU Melalui Program Retail Make Over
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Dukung Program 3 Juta...
Dukung Program 3 Juta Rumah, Infiniti Land dan UI Jalin Kolaborasi
IHSG Anjlok Lebih 1%...
IHSG Anjlok Lebih 1% ke 6.154 Siang Ini
OveerPOS Dorong Efisiensi...
OveerPOS Dorong Efisiensi Bisnis lewat Integrasi Transaksi dan Pajak
Infografis
Profil 10 Pahlawan Nasional...
Profil 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved