Ahli Teknologi Pangan Sarankan Sistem Rantai Dingin Perkuat Program MBG
Jum'at, 03 April 2026 - 21:31 WIB
loading...
Ahli teknologi pangan mendorong penerapan sistem rantai dingin (cold chain) dalam program MBG. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Ahli teknologi pangan mendorong penerapan sistem rantai dingin (cold chain) dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) guna menjamin mutu dan keamanan pangan secara nasional. Langkah ini dinilai penting di tengah evaluasi besar-besaran terhadap ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
"Badan Gizi Nasional (BGN) memang sudah memberikan panduan dasar melalui program pra-syarat. Namun, penerapan aspek teknis penting seperti pemecahan masalah dan langkah pencegahan masih perlu dioptimalkan," ujar Ahli Teknologi Pangan Yuyun Anwar, seperti dikutip Jumat (3/4/2026).
Baca Juga: MBG Disalurkan 5 Hari Sekolah, Daerah 3T Senin-Sabtu
BGN sebelumnya menghentikan sementara operasional 1.256 SPPG di wilayah Indonesia Timur hingga 1 April 2026 sebagai bagian dari upaya standardisasi nasional. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang disalurkan tidak berbeda antarwilayah serta memenuhi aspek keamanan pangan.
Menurut Yuyun, banyak mitra pelaksana belum sepenuhnya memahami standar teknis pengolahan makanan dalam skala besar. Hal ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila tidak segera diperbaiki melalui peningkatan kapasitas dan sistem pengelolaan yang lebih ketat.
"Badan Gizi Nasional (BGN) memang sudah memberikan panduan dasar melalui program pra-syarat. Namun, penerapan aspek teknis penting seperti pemecahan masalah dan langkah pencegahan masih perlu dioptimalkan," ujar Ahli Teknologi Pangan Yuyun Anwar, seperti dikutip Jumat (3/4/2026).
Baca Juga: MBG Disalurkan 5 Hari Sekolah, Daerah 3T Senin-Sabtu
BGN sebelumnya menghentikan sementara operasional 1.256 SPPG di wilayah Indonesia Timur hingga 1 April 2026 sebagai bagian dari upaya standardisasi nasional. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang disalurkan tidak berbeda antarwilayah serta memenuhi aspek keamanan pangan.
Menurut Yuyun, banyak mitra pelaksana belum sepenuhnya memahami standar teknis pengolahan makanan dalam skala besar. Hal ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila tidak segera diperbaiki melalui peningkatan kapasitas dan sistem pengelolaan yang lebih ketat.
Lihat Juga :