Rupiah Berantakan Sentuh Rp17.500, Pengusaha Cemaskan Kelangsungan Bisnis
Rabu, 13 Mei 2026 - 07:52 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Susul Pelemahan Rupiah, IHSG Tersungkur ke 6.858 Sore Ini
Ia mengambil contoh konkret, di mana melambungnya harga nafta yang bertindak sebagai bahan baku esensial bagi industri plastik sukses memicu lonjakan harga resin hingga menyentuh angka puluhan persen.
Realitas di lapangan ini pada akhirnya menciptakan efek domino atau dampak berantai yang menghantam industri kemasan serta rupa-rupa sektor hilir yang lain.
“Situasi ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” imbuh Shinta.
Di saat bersamaan, Apindo turut menyoroti fakta bahwa menguatnya kedudukan dolar AS secara tak langsung akan membengkakkan beban kewajiban finansial perusahaan dalam bentuk valuta asing, entah itu dilihat dari sisi pembayaran bunga pinjaman maupun cicilan pokok utangnya. Sehingga hal ini berimbas langsung pada bagaimana perusahaan memanajemen cash flow mereka dan secara otomatis menaikkan profil risiko korporasi yang bersangkutan.
Membuat situasi kian pelik, para pengusaha rupanya tidak dibekali ruang gerak yang memadai untuk sekadar menaikkan harga jual produk di pasaran, lantaran daya beli masyarakat yang sedang lesu-lesunya. Sebagai konsekuensi logisnya, porsi terbesar dari himpitan biaya tak terduga tersebut mau tidak mau harus ditelan dan diserap langsung oleh kantong perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Ia mengambil contoh konkret, di mana melambungnya harga nafta yang bertindak sebagai bahan baku esensial bagi industri plastik sukses memicu lonjakan harga resin hingga menyentuh angka puluhan persen.
Realitas di lapangan ini pada akhirnya menciptakan efek domino atau dampak berantai yang menghantam industri kemasan serta rupa-rupa sektor hilir yang lain.
“Situasi ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” imbuh Shinta.
Di saat bersamaan, Apindo turut menyoroti fakta bahwa menguatnya kedudukan dolar AS secara tak langsung akan membengkakkan beban kewajiban finansial perusahaan dalam bentuk valuta asing, entah itu dilihat dari sisi pembayaran bunga pinjaman maupun cicilan pokok utangnya. Sehingga hal ini berimbas langsung pada bagaimana perusahaan memanajemen cash flow mereka dan secara otomatis menaikkan profil risiko korporasi yang bersangkutan.
Membuat situasi kian pelik, para pengusaha rupanya tidak dibekali ruang gerak yang memadai untuk sekadar menaikkan harga jual produk di pasaran, lantaran daya beli masyarakat yang sedang lesu-lesunya. Sebagai konsekuensi logisnya, porsi terbesar dari himpitan biaya tak terduga tersebut mau tidak mau harus ditelan dan diserap langsung oleh kantong perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Lihat Juga :