Indonesia Peringkat Satu Dunia: Jangan Hepi Dulu, Masih Banyak PR di Keuangan Syariah
Minggu, 04 Oktober 2020 - 22:00 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia berada pada posisi paling atas dalam pasar keuangan syariah global. Peringkat RI ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya yang menempati urutan enam dunia.
Dalam laporan Global Islamic Finance Report (GIFR), Indonesia mencatat skor 81,93 pada Islamic Finance Country Index (IFCI) 2019. Pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan, prestasi tersebut memang patut disyukuri, dalam beberapa tahun terakhir berhasil memperbaiki peringkat Indonesia di bidang ekonomi syariah di level global.
"Meskipun hal ini harus kita syukuri, tetapi masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan," ujar Piter saat dihubungi di Jakarta, Minggu (4/10/2020). Secara perkembangan dan pertumbuhan pasar keuangan Indonesia memang mengalami kenaikan yang pesat, namun kalau dilihat dari posisinya terhadap pasar keuangan total, posisi keuangan syariah Indonesia masih rendah.
"Aset perbankan syariah kita masih di bawah 10% terhadap total aset perbankan. Demikian juga dengan aset lembaga syariah non-bank. Padahal Indonesia memiliki potensi keuangan syariah yang jauh lebih besar. Jadi meskipun kita mendapatkan peringkat yang begitu baik, masih banyak yang harus dilakukan," beber Piter. ( Baca juga:Bio Farma Menjawab Permintaan Luhut soal Alat PCR dan Rapid )
Peneliti Indef Nailu Huda juga mengaku bersyukur atas potensi yang diraih karena perkembangan peraturan mengenai industri keuangan syariah di Indonesia cukup besar. "Dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, capaian ini ya memang layak. Terlebih pemerintah juga aktif dalam perbaikan peraturan dan produk-produk syariah, seperti sukuk dan lainnya," kata Huda.
Namun demikian, masih terdapat catatan mengenai keuangan syariah di Indonesia yang menyeret Bank Muamalat (Bank Syariah pertama) yang pernah hampir masuk ke dalam jurang kebangkrutan. Selain itu, bank syariah juga masih minim dalam proyek besar, seringkali hanya di pembiayaan perumahan.
"Pengelolaan zakat juga masih belum optimal dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkualitas," beber dia.
Dalam laporan Global Islamic Finance Report (GIFR), Indonesia mencatat skor 81,93 pada Islamic Finance Country Index (IFCI) 2019. Pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan, prestasi tersebut memang patut disyukuri, dalam beberapa tahun terakhir berhasil memperbaiki peringkat Indonesia di bidang ekonomi syariah di level global.
"Meskipun hal ini harus kita syukuri, tetapi masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan," ujar Piter saat dihubungi di Jakarta, Minggu (4/10/2020). Secara perkembangan dan pertumbuhan pasar keuangan Indonesia memang mengalami kenaikan yang pesat, namun kalau dilihat dari posisinya terhadap pasar keuangan total, posisi keuangan syariah Indonesia masih rendah.
"Aset perbankan syariah kita masih di bawah 10% terhadap total aset perbankan. Demikian juga dengan aset lembaga syariah non-bank. Padahal Indonesia memiliki potensi keuangan syariah yang jauh lebih besar. Jadi meskipun kita mendapatkan peringkat yang begitu baik, masih banyak yang harus dilakukan," beber Piter. ( Baca juga:Bio Farma Menjawab Permintaan Luhut soal Alat PCR dan Rapid )
Peneliti Indef Nailu Huda juga mengaku bersyukur atas potensi yang diraih karena perkembangan peraturan mengenai industri keuangan syariah di Indonesia cukup besar. "Dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, capaian ini ya memang layak. Terlebih pemerintah juga aktif dalam perbaikan peraturan dan produk-produk syariah, seperti sukuk dan lainnya," kata Huda.
Namun demikian, masih terdapat catatan mengenai keuangan syariah di Indonesia yang menyeret Bank Muamalat (Bank Syariah pertama) yang pernah hampir masuk ke dalam jurang kebangkrutan. Selain itu, bank syariah juga masih minim dalam proyek besar, seringkali hanya di pembiayaan perumahan.
"Pengelolaan zakat juga masih belum optimal dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkualitas," beber dia.
Lihat Juga :