Menlu Retno: Nilai Perdagangan dengan Swiss Meningkat di Saat Pandemi

loading...
Menlu Retno: Nilai Perdagangan dengan Swiss Meningkat di Saat Pandemi
Menlu Retno Marsudi, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Pejabat Pemerintah Swiss Saat Kunjungan. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Ada kabar gembira yang dibawa Menteri Luar Negeri Retno Marsudiusai melakukan kunjungan ke Bern dan dan Jenewa, Swiss, bersama dengan Menteri BUMN Erick Thohirdan Tim Kementerian Kesehatan. Retno mengatakan ada beberapa poin penting usai melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Swiss dan kalangan dunia usaha di sana.

Pertama Indonesia mengapresiasi kebijakan Swiss yang memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara prioritas kerja sama pembangunan untuk tahun 2021-2024. Indonesia pun mengusulkan kiranya isu kesehatan dapat dimasukkan sebagai salah satu bidang kerja sama.

"Kerja sama kesehatan ini dapat berupa, antara lain, penguatan kerja sama antar institusi, telemedicine, riset dan inovasi," kata Retno, dalam siaran persnya yang diterima, Sabtu (17/10/2020). (Baca juga:Agar Industri Otomotif Bisa Ngegas, Kemenperin Minta Rem Pajak Dilepas)

Kedua, lanjut Retno, Indonesia mengharapkan agar ratifikasi IE CEPA dari pihak Swiss dapat segera dilakukan. Indonesia juga mengharapkan agar negosiasi perjanjian investasi bilateral dapat diselesaikan paling lambat awal tahun 2021.



Poin penting selanjutnya, Indonesia mengusulkan agar kerja sama pendidikan vokasi dan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) dapat menjadi salah satu bagian implementasi dari MOU on Labour and Employment.

"Kelima, Indonesia mengharapkan kiranya ratifikasi Perjanjian Mutual Legal Assistance (MLA) dapat segera diselesaikan oleh Swiss. Bagi pengusaha Swiss, Indonesia tetap merupakan negara yang atraktif dan menjadi tujuan bisnis mereka di Asia," jelas Retno.

Menurut Retno, Swiss merupakan salah satu mitra penting investasi Indonesia karena menduduki peringkat ke-4 investor asing terbesar dari Eropa di Indonesia. Berdasarkan data BKPM, investasi Swiss di Indonesia secara kumulatif dari tahun 2015-2019 tercatat sebesar US$ 1,42 miliar dalam 1.097 proyek. Perdagangan kedua negara juga menunjukkan trend positif. (Baca juga:Prof Rochmat Wahab, Akademisi NU yang Menjadi Salah Satu Tokoh Sentral KAMI)



"Di saat pandemi, tahun ini hingga Juli 2020 misalnya, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$2,1 milyar. Angka ini bahkan telah melewati nilai perdagangan tahun 2019 (US$ 900 juta)," pungkas Retno.

Dalam pertemuan bilateral itu, hadir pula beberapa perwakilan private sectors, antara lain Stadler Rail, Roche dan Merck Sharp & Dohme. Pak Menteri BUMN dan pak Wamen BUMN juga secara terpisah melakukan pertemuan dengan mereka.
(uka)
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top