Produsen Kereta Jepang Tak Tertarik Lagi dengan Proyek MRT

loading...
Produsen Kereta Jepang Tak Tertarik Lagi dengan Proyek MRT
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pembangunan proyek MRTJakarta fase II A (Bundaran HI-Kota), selain terkendala pengadaan konstruksi fisik, tetapi juga pengadaan kereta. Sejumlah penawaran yang dilakukan MRT Jakarta menunjukkan produsen kereta Jepangtak berminat mengambil pekerjaan di Indonesia.

Hal itu diungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar terkait market sounding pertama paket CP206, pada 26 Februari 2020. Paket ini meliputi pengadaan rolling stock atau gerbong kereta MRT Jakarta. (Baca juga:Sempat Dihentikan karena Ada Demo, Operasional MRT Sudah Berjalan Normal)

Saat itu, lanjut dia, MRT Jakarta menawarkan pekerjaan enam train set atau rangkaian kereta. Namun hasilnya, market merespons ketidaktertarikannya terhadap tawaran itu. Dan itu terulang pada market sounding kedua pada Juli-Agustus 2020.

Maka itu MRT Jakarta mengusulkan optimasi pengadaan menjadi 14 rangkaian kereta dan digabung dengan rencana Fase 2B. Pihaknya juga mengajukan permohonan dukungan kepada JICA.



"Kami (MRT Jakarta), bersurat kepada JICA meminta dukungan Pemerintah Jepang untuk mendorong partisipasi market Jepang," ujar dia dalam diskusi virtual, Senin (19/10/20).

Kemudian, tutur dia, MRT Jakarta menunggu respons JICA dan market. Menurutnya, market sounding lanjutan akan dilakukan oleh JICA mengenai pengadaan gabungan Fase 2 dan 2B, dengan bantuan pendekatan G to G mulai Oktober 2020.

"Maka itu target memulai tender ditetapkan pada Desember 2020," jelas dia.



Sementara itu, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan, ada sederet alasan para produsen kereta Jepang tak tertarik dengan tawaran MRT Jakarta.

"Jadi beberapa contoh proyek yang diquote oleh para trade maker atau manufaktur waktu kita melakukan market sounding atau briefing itu adalah Tokyo Olympic 2020. Maka itu mereka masih sibuk dengan itu pada saat kita masuk," ungkap dia.

Lalu, lanjut dia, ada banyak proyek lain yang dikerjakan perusahaan Jepang di luar Indonesia. Misalnya di Manila, Filipina, yang melakukan pesanan kereta berjumlah 300 ratus. (Baca juga:Minta Ada Pelatihan Treatment Vaksin COVID-19, Jokowi: Ini Bukan Barang Gampang)

"Dan juga ada beberapa proyek dan pemesanan dari Amerika Serikat (AS). Itu baru sebagian yang saya sebutkan, itu membuat market Jepang occupied, dan ditambah lagi order kita yang kecillah dibanding dengan order-ordernya mereka," tandas dia.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top