Bukan Ketenagakerjaan, Korupsi dan Birokrasi yang Ruwet Bikin Pengusaha Mumet

loading...
Bukan Ketenagakerjaan, Korupsi dan Birokrasi yang Ruwet Bikin Pengusaha Mumet
Warga mengurus izin usaha di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pusat di gedung BKPM, Jakarta, Kamis (23/7/2020). Foto/Dok SINDOphoto/Yorri Farli
A+ A-
JAKARTA - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan bahwa masalah investasi di mata pengusaha atau investor bukan pada ketenagakerjaan melainkan adanya korupsi dan birokrasi yang berbelit.

Untuk itu, dia merasa heran dengan adanya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Dia menilai, UU ini bukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah investasi di Indonesia.

(Baca juga: Airlangga: UU Cipta Kerja Memotong Obesitas Regulasi)

"Yang buat pusing pengusaha itu bukan masalah ketenagakerjaan, melainkan masalah korupsi nomor satu, dan birokrasi yang berbelit - belit," katanya dalam diskusi secara virtual, Jumat (23/10/2020).



Menurut Faisal, investasi di Indonesia sejak periode pertama di pemerintahan Joko Widodo sebenarnya cukup besar. Berdasarkan data yang dimiliki Faisal, peranan investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 34 persen. Angka ini terbilang yang tertinggi sepanjang sejarah RI.

"Nilai investasi terhadap PDB di era Jokowi tertinggi, tidak pernah investasi sebanyak ini. Jadi, tidak benar investasi itu rendah" jelasnya.

(Baca juga: Negaranya Boleh Aja Resesi, Tapi Belanda Tetap Gacor Soal Investasi di RI)



Selain itu, lanjut Faisal, pertumbuhan investasi juga cukup tinggi. Bahkan, Indonesia lebih tinggi dari China, Brazil, Malaysia, Thailand dan Filipina. "Memang masih di bawah Vietnam, namun sebenarnya capaian ini tidak jelek. Dan di era Jokowi naik terus pertumbuhannya," terangnya.
(ind)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top