Produktif dan Dapat Duit di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengungkapkan, inisiasi usaha mandiri ini sebenarnya sudah cukup lama. Isnur dan Fahmi melakukan uji coba dulu di tanah yang sama dengan beberapa metode penanaman sejak setahun yang lalu. Ketika berhasil, keduanya menjadi yakin untuk melakukan dengan skala yang lebih besar. Keduanya lantas merumuskan konsep yang adil dan seimbang untuk semua pihak baik untuk petani, pemilik lahan, tim, maupun rekan-rekan yang urun dana atau berinvestasi.
Isnur menegaskan, usaha yang dijalankan bersama Fahmi bekerja sama dengan petani dan pemilik lahan ini memang sebagai bagian dari usaha agar mereka bisa tetap produktif dan kreatif, sekaligus menyambungkan petani yang membutuhkan akses modal, pendampingan, dan pemasaran. (Baca juga: Positif Covid-19, Presiden Polandia Minta Maaf)
Apa yang dilakukan Isnur cukup mencengangkan. Musababnya dia adalah lulusan sarjana hukum dan saat ini masih menjadi Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Meski begitu, kata Isnur, selama di YLBHI justru dia banyak berhubungan dengan banyak petani.
Isnur bersama koleganya di YLBHI menyadari bahwa para petani sangat membutuhkan pendampingan dan pemberdayaan. Apalagi saat ini sangat banyak lahan yang dibeli dan dikuasai oleh perusahaan properti, tambang, dan lain. Kemudian petani menjadi buruh dan tidak bisa memiliki lahan dan menggarap lagi.
"Upaya ini bagian dari melawan juga agar petani punya mekanisme mempertahankan lahannya, dan dalam agenda kita berencana memperluas membentuk kelompok tani misalnya," tegasnya.
Dia menjelaskan, satu hal yang sangat berlimpah dan juga potensial adalah rempah-rempah. Semua masakan Indonesia sangat membutuhkan rempah-rempah, jahe, lengkuas, kunyit, kencur, dan lain-lain. Jadi bayangannya Isnur dan Fahmi akan fokus di rimpang-rimpang nusantara. Selain itu keduanya juga membuat sistem eco farming di mana ada dukungan kotoran hewan dari domba/kambing. "Jadi kita memelihara domba juga," imbuhnya. (Baca juga: Ilmuwan Ciptakan Laboratorium Pembentukan Bintang dan Planet)
Setali tiga uang, mahasiswi IAIN Ambon, Maluku, Siti Fatimah juga mengaku tetap menjalankan aktivitas kesehariannya meski di masa pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan. Selain perkuliahan secara virtual, Fatimah memiliki aktivitas lain. Di antaranya praktik mengajar secara virtual bagi siswa sekolah, membuka dan mengajar les privat, dan turun menjadi relawan organisasi filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Ambon dan Masyarakat Relawan Maluku (MRI). Bersama relawan lain, Fatimah sering turun ke lapangan untuk mensosialisasikan protokol kesehatan maupun membagikan masker ke warga.
Saat pandemi, Fatimah juga berusaha membantu meringankan beban kedua orangtuanya, apalagi ibunya hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya adalah seorang penjual ikan. Caranya, Fatimah bersama teman-teman sesama mahasiswi berjualan camilan berupa keripik bayam yang dijual secara online maupun offline. Dia tidak mau menambahkan beban orang tuanya.
"Sekarang Bapak kalau jualan ikan di pasar hasilnya tidak seperti dulu. Untuk bantuan dari pemerintah, kita baru dapat BLT bulan Agustus kemarin. Sedangkan bansos sembako dari awal Covid-19 kita sampai sekarang tidak pernah dapat. Mestinya keluarga seperti kita diperhatikan sama pemerintah," kata Fatimah dibincangi KORAN SINDO belum lama ini.
Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) Azhari mengungkapkan, selama pandemi masyarakat jelas tidak produktif. Ini terlihat dari meningkatnya angka pengangguran, dan banyaknya usaha yang gulung tikar. Kondisi ini terjadi akibat buah dari kebijakan investasi produksi massal dan keterbukaan impor yang membuat produksi dalam negeri khususnya yang dihasilkan petani dan pengrajin kecil terpinggirkan.
“Saat ini kondisi UMKM juga tidak seperti krisis 1998, di mana UMKM bisa menjadi penopang ekonomi tingkat grassroots. UMKM juga ikut menerima imbas dari krisis Covid-19,” ujar Azhari. (Lihat videonya: Skateboard Dapat Melatih Keberanian Anak-anak Sejak Dini)
Azhari tak menampik, bahwa selama pandemi pemerintah sudah banyak memberi bantuan dan dorongan semangat kepada pelaku usaha kecil agar tetap produktif. Namun begitu, kata dia, intervensi ini sedikit terlambat. Makanya, dia berharap, pemerintah bisa lebih fokus lagi memberdayakan hasil usaha rakyat kecil ketimbang menggantungkan pada hasil produksi usaha-usaha skala besar apalagi produk impor.
"Pilihan kebijakan dengan membuka persawahan besar oleh BUMN, sepertinya akan kurang berhasil. Sebab keberhasilan swasembada pangan di zaman orba dulu bukan karena produksi massal BUMN. Tapi produksi hasil para petani kita yang didorong dengan berbagai kebijakan atau intervensi pemerintah," paparnya. (Sabir Laluhu)
Isnur menegaskan, usaha yang dijalankan bersama Fahmi bekerja sama dengan petani dan pemilik lahan ini memang sebagai bagian dari usaha agar mereka bisa tetap produktif dan kreatif, sekaligus menyambungkan petani yang membutuhkan akses modal, pendampingan, dan pemasaran. (Baca juga: Positif Covid-19, Presiden Polandia Minta Maaf)
Apa yang dilakukan Isnur cukup mencengangkan. Musababnya dia adalah lulusan sarjana hukum dan saat ini masih menjadi Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Meski begitu, kata Isnur, selama di YLBHI justru dia banyak berhubungan dengan banyak petani.
Isnur bersama koleganya di YLBHI menyadari bahwa para petani sangat membutuhkan pendampingan dan pemberdayaan. Apalagi saat ini sangat banyak lahan yang dibeli dan dikuasai oleh perusahaan properti, tambang, dan lain. Kemudian petani menjadi buruh dan tidak bisa memiliki lahan dan menggarap lagi.
"Upaya ini bagian dari melawan juga agar petani punya mekanisme mempertahankan lahannya, dan dalam agenda kita berencana memperluas membentuk kelompok tani misalnya," tegasnya.
Dia menjelaskan, satu hal yang sangat berlimpah dan juga potensial adalah rempah-rempah. Semua masakan Indonesia sangat membutuhkan rempah-rempah, jahe, lengkuas, kunyit, kencur, dan lain-lain. Jadi bayangannya Isnur dan Fahmi akan fokus di rimpang-rimpang nusantara. Selain itu keduanya juga membuat sistem eco farming di mana ada dukungan kotoran hewan dari domba/kambing. "Jadi kita memelihara domba juga," imbuhnya. (Baca juga: Ilmuwan Ciptakan Laboratorium Pembentukan Bintang dan Planet)
Setali tiga uang, mahasiswi IAIN Ambon, Maluku, Siti Fatimah juga mengaku tetap menjalankan aktivitas kesehariannya meski di masa pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan. Selain perkuliahan secara virtual, Fatimah memiliki aktivitas lain. Di antaranya praktik mengajar secara virtual bagi siswa sekolah, membuka dan mengajar les privat, dan turun menjadi relawan organisasi filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Ambon dan Masyarakat Relawan Maluku (MRI). Bersama relawan lain, Fatimah sering turun ke lapangan untuk mensosialisasikan protokol kesehatan maupun membagikan masker ke warga.
Saat pandemi, Fatimah juga berusaha membantu meringankan beban kedua orangtuanya, apalagi ibunya hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya adalah seorang penjual ikan. Caranya, Fatimah bersama teman-teman sesama mahasiswi berjualan camilan berupa keripik bayam yang dijual secara online maupun offline. Dia tidak mau menambahkan beban orang tuanya.
"Sekarang Bapak kalau jualan ikan di pasar hasilnya tidak seperti dulu. Untuk bantuan dari pemerintah, kita baru dapat BLT bulan Agustus kemarin. Sedangkan bansos sembako dari awal Covid-19 kita sampai sekarang tidak pernah dapat. Mestinya keluarga seperti kita diperhatikan sama pemerintah," kata Fatimah dibincangi KORAN SINDO belum lama ini.
Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) Azhari mengungkapkan, selama pandemi masyarakat jelas tidak produktif. Ini terlihat dari meningkatnya angka pengangguran, dan banyaknya usaha yang gulung tikar. Kondisi ini terjadi akibat buah dari kebijakan investasi produksi massal dan keterbukaan impor yang membuat produksi dalam negeri khususnya yang dihasilkan petani dan pengrajin kecil terpinggirkan.
“Saat ini kondisi UMKM juga tidak seperti krisis 1998, di mana UMKM bisa menjadi penopang ekonomi tingkat grassroots. UMKM juga ikut menerima imbas dari krisis Covid-19,” ujar Azhari. (Lihat videonya: Skateboard Dapat Melatih Keberanian Anak-anak Sejak Dini)
Azhari tak menampik, bahwa selama pandemi pemerintah sudah banyak memberi bantuan dan dorongan semangat kepada pelaku usaha kecil agar tetap produktif. Namun begitu, kata dia, intervensi ini sedikit terlambat. Makanya, dia berharap, pemerintah bisa lebih fokus lagi memberdayakan hasil usaha rakyat kecil ketimbang menggantungkan pada hasil produksi usaha-usaha skala besar apalagi produk impor.
"Pilihan kebijakan dengan membuka persawahan besar oleh BUMN, sepertinya akan kurang berhasil. Sebab keberhasilan swasembada pangan di zaman orba dulu bukan karena produksi massal BUMN. Tapi produksi hasil para petani kita yang didorong dengan berbagai kebijakan atau intervensi pemerintah," paparnya. (Sabir Laluhu)
(ysw)
Lihat Juga :