Bank Mega Catat Laba Rp2,2 Triliun, Tumbuh Diatas Rata-rata Industri
Rabu, 11 November 2020 - 20:00 WIB
loading...
PT Bank Mega Tbk (Bank Mega) berhasil membukukan kinerja positif di tengah-tengah pandemi Covid-19. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Mega Tbk (Bank Mega) berhasil membukukan kinerja positif di tengah-tengah situasi perekonomian yang menantang akibat pandemi Covid-19 yang masih belum mereda.
Hingga kuartal III/ 2020 laba sebelum pajak tercatat naik sebesar 27,7% menjadi Rp2,2 triliun berbanding Rp1,7 triliun. Sedangkan laba bersih tumbuh sebesar 27,8% menjadi Rp1,8 triliun berbanding Rp1,4 triliun pada periode sebelumnya. Pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan laba sebelum pajak perbankan per September 2020 yang mengalami pertumbuhan negatif 27,6% year on year (yoy) berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menjelaskan bahwa strategi menjaga profitabilitas adalah dengan fokus pada peningkatan pendapatan melalui pendapatan bunga bersih dan fee base income serta menurunkan biaya.
“Pertumbuhan laba Bank Mega dikontribusikan oleh meningkatnya Net Interest Income (NII) 8,3% secara year on year menjadi Rp2,97 triliun dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp2,75 triliun. Pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih Perbankan per Agustus 2020 yang mengalami pertumbuhan negatif menjadi sebesar -2,57% (yoy),” kata Kostaman dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (11/11/2020).
(Baca juga : Dihajar Pandemi BRI Masih Catatkan Laba Bersih Rp14,15 Triliun)
Faktor penyumbang laba lainnya adalah meningkatnya Fee Based Income secara yoy sebesar 3,1% sebesar Rp1,64 triliun berbanding Rp1,59 triliun. Pertumbuhan Fee Based Income Perbankan per Agustus 2020 tercatat sebesar 12,44% (yoy).
Hingga kuartal III/ 2020 laba sebelum pajak tercatat naik sebesar 27,7% menjadi Rp2,2 triliun berbanding Rp1,7 triliun. Sedangkan laba bersih tumbuh sebesar 27,8% menjadi Rp1,8 triliun berbanding Rp1,4 triliun pada periode sebelumnya. Pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan laba sebelum pajak perbankan per September 2020 yang mengalami pertumbuhan negatif 27,6% year on year (yoy) berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menjelaskan bahwa strategi menjaga profitabilitas adalah dengan fokus pada peningkatan pendapatan melalui pendapatan bunga bersih dan fee base income serta menurunkan biaya.
“Pertumbuhan laba Bank Mega dikontribusikan oleh meningkatnya Net Interest Income (NII) 8,3% secara year on year menjadi Rp2,97 triliun dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp2,75 triliun. Pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih Perbankan per Agustus 2020 yang mengalami pertumbuhan negatif menjadi sebesar -2,57% (yoy),” kata Kostaman dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (11/11/2020).
(Baca juga : Dihajar Pandemi BRI Masih Catatkan Laba Bersih Rp14,15 Triliun)
Faktor penyumbang laba lainnya adalah meningkatnya Fee Based Income secara yoy sebesar 3,1% sebesar Rp1,64 triliun berbanding Rp1,59 triliun. Pertumbuhan Fee Based Income Perbankan per Agustus 2020 tercatat sebesar 12,44% (yoy).
Lihat Juga :