Australia Siap Adukan China ke WTO Atas Tarif Jelai

Minggu, 29 November 2020 - 13:30 WIB
loading...
Australia Siap Adukan...
Perseteruan antara China dan Australia memanas dengan diterapkannya bea masuk tinggi oleh Beijing atas sejumlah produk asal Negeri Kanguru. Foto/Ilustrasi
A A A
CANBERRA - Di saat ketegangan atas tarif besar-besaran China pada anggur Australia meningkat, Pemerintah Federal Australia melanjutkan rencana untuk membawa China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas ekspor jelai. Mei lalu, China mengancam untuk memberlakukan tarif pada jelai Australia, berdasarkan hasil investigasi anti-dumping dan bea balik yang sedang berlangsung.

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham telah merinci seruan yang telah dibuat pemerintah melalui proses domestik China untuk membatalkan keputusan tersebut dan membatasi dampak pada perdagangan jelai senilai USD1,5 miliar dengan China.

(Baca Juga: Makin Panas! China Patok Tarif hingga 200% bagi Anggur Australia)

"Kami berusaha untuk terlibat dengan itikad baik," kata Senator Birmingham seperti dikutip dari ABC News, Minggu (29/11/2020). "Kami kecewa karena semua bukti, yang meyakinkan seperti yang kami yakini, ditolak oleh otoritas China dan banding itu tidak berhasil."

Seiring ketegangan dengan Australia, China telah menargetkan segalanya mulai dari jelai Australia, batu bara, anggur hingga turis dan pelajar. Senator Birmingham mengatakan bahwa pengaduan ke WTO adalah langkah berikutnya. "Saya berharap itu akan menjadi hasilnya," katanya.

Industri itu sendiri terpecah mengenai apakah eskalasi konflik perdagangan adalah tindakan yang tepat. "Ada pendapat yang berbeda, jujur saja di sana," kata Birmingham.

Tetapi, kata dia, secara keseluruhan Australia mendukung sistem berbasis aturan untuk perdagangan internasional. "Dan jika Anda berpegang pada sistem berbasis aturan, Anda juga harus menggunakan sistem berbasis aturan itu, yang mencakup menyebutkan di mana menurut Anda aturan telah dilanggar dan memanggil wasit internasional untuk membantu menyelesaikan perselisihan itu," tandasnya.

Produsen anggur Australia manjadi salah satu industri yang terdampak sengketa perdagangan China-Australia. Produsen anggur Australia kini menghadapi tarif hingga 212% untuk produk mereka. Pemerintah China mengumumkan langkah-langkah tersebut akan berlaku mulai Sabtu (28/11), yang menjadi pukulan besar bagi industri senilai USD1,2 miliar per tahun tersebut.

China menuduh produsen Australia menjual anggur dengan harga di bawah biaya produksinya, merugikan pembuat anggur China. Meski penyelidikan terkait tuduhan itu belum akan selesai sampai tahun depan, Kementerian Perdagangan China telah mengumumkan bahwa mulai 28 November, importir anggur Australia dari China harus membayar "uang jaminan anti-dumping" sementara. Uang jaminan yang secara efektif berfungsi seperti tarif itu berkisar antara 107% hingga lebih dari 200%.

Saat ketegangan perdagangan dan politik makin membara, spekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kedua negara dan apa yang selanjutnya dalam daftar sasaran sanksi China pun berputar liar.

Birmingham mengklarifikasi bahwa sementara keluhan dengan WTO tentang bea jelai dapat diharapkan segera, banding tingkat tinggi yang sama atas anggur tidak akan terjadi. Sebab, penyelidikan mengenai tuduhan dumping anggur masih dalam tahap awal. "Kami masih memiliki bagian dari proses China yang harus kami selesaikan sebelum kami mencapai titik sengketa WTO (tentang anggur)," kata Birmingham.

(Baca Juga: Bea Masuk Australia Nol Persen, Kemendag Ajak Pelaku Usaha Serbu Pasar Negeri Kanguru)

Ketika ketidakpastian menggantung di industri yang terkena tarif perdagangan China, Menteri Pertanian David Littleproud mengatakan kepada Sky News bahwa Pemerintah Federal tidak menyesal Australia menjadi salah satu negara pertama yang menyerukan penyelidikan tentang asal-usul Covid-19.

Seruan tersebut membuat marah Pemerintah China dan telah secara luas dipandang sebagai salah satu motivasi bagi Beijing untuk meningkatkan kebijakan luar negerinya yang agresif.

Tapi, Littleproud mendukung permintaan penyelidikan, dan bersikeras bahwa tidak ada niat buruk dalam permintaan tersebut. "Itu adalah permintaan yang masuk akal. Saya akan berpikir bahwa setelah pandemi di mana begitu banyak nyawa telah tersentuh, itu adalah hal yang bertanggung jawab yang akan dilakukan pemerintah dan fakta bahwa Australia memimpin, saya pikir kita harus bangga akan hal itu," tegasnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Rekomendasi
Bagaimana Presiden FIFA...
Bagaimana Presiden FIFA Keliling 4 Zona Waktu Setiap Hari Selama Piala Dunia 2026?
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
Rueibin Chen Sebut Tampil...
Rueibin Chen Sebut Tampil di Indonesia sebagai Impian, Siap Hibur Pecinta Musik Klasik Jakarta
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved