Pantas Saja Dana Asing Kembali Masuk ke Indonesia, Imbal Hasilnya Tertinggi di ASEAN

loading...
Pantas Saja Dana Asing Kembali Masuk ke Indonesia, Imbal Hasilnya Tertinggi di ASEAN
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Indonesia adalah salah satu pasar berkembang di ASEAN yang cukup banyak menerima portofolio investasi dari offshore. Makanya, tentu juga tidak kebal dari situasi pandemi saat ini.

Perlu diketahui aliran dana keluar yang sangat besar terjadi di bulan Maret dan April, hampir USD11 miliar di pasar obligasi dan saham. Akibatnya, pasar finansial di Indonesia menjadi sangat volatile, termasuk di pasar obligasi dengan valas.

Managing Director, Head of Global Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang sangat menarik bagi para investor. ( Baca juga:Kehadiran Vaksin Covid-19 Makin Terang, Pasar Keuangan Tambah Semangat )

Apabila dilihat melalui portofolio investasi yang ada saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang menyediakan imbal hasil yang cukup menarik dan tertinggi dibanding instrumen lain di kawasan ASEAN.



"Itulah yang sebenarnya terjadi di kuartal kedua ke kuartal ketiga. Kami mulai melihat aliran dana asing masuk kembali ke pasar finansial indonesia," katanya saat webinar di Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Sebagai contoh kita melihat posisi investasi dana asing di bulan Januari yang hampir mencapai Rp1.100 triliun turun ke Rp917 triliun sampai bulan April. Tetapi mulai meningkat kembali ke Rp965 triliun di bulan November 2020.

Menurut Ali, walaupun peningkatan ini belum sebanyak yang diharapkan, tapi setidaknya terlihat hampir sekitar USD3 miliar yang kembali dan kebanyakan di pasar obligasi pemerintah dan itu menunjukkan kepercayaan investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia.



"Jadi kita melihat masih ada faktor pendorong untuk perbaikan di tahun 2021," ucap dia.

Memang di sektor korporasi masih belum banyak aktivitas dan suntikan investasi, tapi setidaknya mulai ada peningkatan dari sisi penjualan dari bulan September hingga Oktober di beberapa sektor industri. ( Baca juga:Suasana Horor GP Bahrain, Grosjean Lolos dari Kobaran Api )

Dia menuturkan, pemerintah harus terus proaktif dan konsisten, tidak hanya melalui inisiatif kebijakan dari besaran stimulus tapi juga dari sisi penyaluran stimulus tersebut untuk membantu pemulihan ekonomi Indonesia. Serta, konsisten melalui reformasi struktural sehingga bisa menarik lebih banyak investasi asing (FDI), terlebih ada momentum baik seperti UU Cipta kerja yang baru saja disetujui.

“Sebenarnya sangat sulit untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Namun apabila dilihat dari konsensus kebanyakan pelaku pasar, 2021 tampaknya akan menjadi tahun yang lebih positif.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top