Neraca Dagang Surplus, Kepercayaan Dunia Usaha Meningkat
Rabu, 16 Desember 2020 - 09:39 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi, penyumbang surplus terbesar minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi baja,” ujar Suhariyanto.
Dia juga menjelaskan, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati mencapai USD449,4 juta, bahan bakar mineral sebesar USD268,5 juta, dan besi dan baja sebesar USD210,8 juta.
Kemudian, lanjut dia, secara pangsa ekspor, Amerika Serikat, China, dan Jepang masih menjadi tujuan ekspor terbesar dari Indonesia. Posisi neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus terhadap AS sebesar USD948,7 juta, India sebesar USD603,8 juta, dan Filipina sebesar USD523 juta. “Namun, Indonesia masih mengalami defisit terhadap China sebesar USD527,6 juta,” ungkap dia. (Baca juga: Masker Wajah Mirip Power Ranger Cegah Infeksi Covid-19)
Pengamat Ekonomi Ryan Kiryanto menyebut lonjakan nilai ekspor sebesar USD15,28 miliar dipicu oleh kenaikan volume ekspor minyak sawit dan batu bara. Pada saat yang bersamaan terjadi kenaikan harga seiring dengan peningkatan permintaan minyak sawit dari India dan batu bara dari China. “Tentu, surplus transaksi perdagangan tersebut menggembirakan karena bisa menambah cadangan devisa,” kata Ryan.
Neraca perdagangan yang surplus ini, kata dia, juga meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sehingga membantu apresiasi rupiah dan menahan capital flight jelang akhir tahun. “Ini terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menguat dan menembus level psikologis 6.000,” ucap dia.
Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan surplus neraca perdagangan disebabkan oleh tumbuhnya ekspor, sedangkan impor masih tertahan oleh pandemi.
“Ekspor bisa lebih awal bangkit karena beberapa negara tujuan ekspor sudah mulai pulih perekonomiannya seperti China. Di sisi lain, juga terjadi kenaikan harga komoditas berorientasi ekspor asal Indonesia, khususnya batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO),” katanya. (Baca juga: Guardiola: Arsenal Harus Percaya Pada Arteta)
Dia juga menjelaskan, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati mencapai USD449,4 juta, bahan bakar mineral sebesar USD268,5 juta, dan besi dan baja sebesar USD210,8 juta.
Kemudian, lanjut dia, secara pangsa ekspor, Amerika Serikat, China, dan Jepang masih menjadi tujuan ekspor terbesar dari Indonesia. Posisi neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus terhadap AS sebesar USD948,7 juta, India sebesar USD603,8 juta, dan Filipina sebesar USD523 juta. “Namun, Indonesia masih mengalami defisit terhadap China sebesar USD527,6 juta,” ungkap dia. (Baca juga: Masker Wajah Mirip Power Ranger Cegah Infeksi Covid-19)
Pengamat Ekonomi Ryan Kiryanto menyebut lonjakan nilai ekspor sebesar USD15,28 miliar dipicu oleh kenaikan volume ekspor minyak sawit dan batu bara. Pada saat yang bersamaan terjadi kenaikan harga seiring dengan peningkatan permintaan minyak sawit dari India dan batu bara dari China. “Tentu, surplus transaksi perdagangan tersebut menggembirakan karena bisa menambah cadangan devisa,” kata Ryan.
Neraca perdagangan yang surplus ini, kata dia, juga meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sehingga membantu apresiasi rupiah dan menahan capital flight jelang akhir tahun. “Ini terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menguat dan menembus level psikologis 6.000,” ucap dia.
Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan surplus neraca perdagangan disebabkan oleh tumbuhnya ekspor, sedangkan impor masih tertahan oleh pandemi.
“Ekspor bisa lebih awal bangkit karena beberapa negara tujuan ekspor sudah mulai pulih perekonomiannya seperti China. Di sisi lain, juga terjadi kenaikan harga komoditas berorientasi ekspor asal Indonesia, khususnya batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO),” katanya. (Baca juga: Guardiola: Arsenal Harus Percaya Pada Arteta)
Lihat Juga :