Neraca Dagang Surplus, Kepercayaan Dunia Usaha Meningkat
Rabu, 16 Desember 2020 - 09:39 WIB
loading...
A
A
A
Dia menyebut dampak positif tersebut akan lebih bagus apabila tren surplus neraca perdagangan dan juga surplus neraca transaksi berjalan (current account) bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Surplus neraca perdagangan yang cukup besar tahun ini mendorong perbaikan current account yang selama ini menjadi titik lemah fundamental ekonomi Indonesia.
“Dengan current account yang lebih sehat maka rupiah akan lebih stabil. Hal ini lebih lanjut akan mengurangi risiko investasi di Indonesia. Aliran modal masuk ke Indonesia diharapkan akan lebih besar,” tandasnya.
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai harga minyak mentah memang cenderung menguat sepanjang bulan November lalu. “Itu yang membuat kinerja ekspor migas naik 27,4% dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya. (Baca juga: Lawan Juragan Kakap, Produk UMKM Siap Konsolidasi)
Sementara ekspor nonmigas juga positif karena adanya pemulihan permintaan di negara utama seperti China naik 16%, Jepang 11,6%, dan India 10%. Sementara ekspor ke AS masih terkontraksi sebesar -1,88%.
Dari kinerja impor tumbuh cukup tinggi, yakni 17,4% dibandingkan Oktober. Menurut dia, kondisi ini yang menyebabkan surplus perdagangan menurun. “Adanya kenaikan impor barang modal sebesar 31,5% mengindikasikan proyek-proyek yang dikerjakan BUMN bidang konstruksi kembali digenjot. Salah satunya untuk pembelian mesin-mesin,” sebut dia. (Lihat videonya:
Sementara impor bahan baku naik 13% bukti industri manufaktur kembali bergairah. Akan tetapi, perlu dicermati adanya kenaikan impor barang konsumsi sebesar 25,5% berkorelasi dengan persiapan pedagang menyambut Harbolnas. (Kunthi Fahmar Sandy)
“Dengan current account yang lebih sehat maka rupiah akan lebih stabil. Hal ini lebih lanjut akan mengurangi risiko investasi di Indonesia. Aliran modal masuk ke Indonesia diharapkan akan lebih besar,” tandasnya.
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai harga minyak mentah memang cenderung menguat sepanjang bulan November lalu. “Itu yang membuat kinerja ekspor migas naik 27,4% dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya. (Baca juga: Lawan Juragan Kakap, Produk UMKM Siap Konsolidasi)
Sementara ekspor nonmigas juga positif karena adanya pemulihan permintaan di negara utama seperti China naik 16%, Jepang 11,6%, dan India 10%. Sementara ekspor ke AS masih terkontraksi sebesar -1,88%.
Dari kinerja impor tumbuh cukup tinggi, yakni 17,4% dibandingkan Oktober. Menurut dia, kondisi ini yang menyebabkan surplus perdagangan menurun. “Adanya kenaikan impor barang modal sebesar 31,5% mengindikasikan proyek-proyek yang dikerjakan BUMN bidang konstruksi kembali digenjot. Salah satunya untuk pembelian mesin-mesin,” sebut dia. (Lihat videonya:
Sementara impor bahan baku naik 13% bukti industri manufaktur kembali bergairah. Akan tetapi, perlu dicermati adanya kenaikan impor barang konsumsi sebesar 25,5% berkorelasi dengan persiapan pedagang menyambut Harbolnas. (Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Lihat Juga :