Anggota DPR Ribka Tjiptaning Ogah Disuntik Vaksin Sinovac, Ini Respon Bos Bio Farma

loading...
Anggota DPR Ribka Tjiptaning Ogah Disuntik Vaksin Sinovac, Ini Respon Bos Bio Farma
Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir merespons, penolakan yang dilontarkan oleh anggota DPR asal PDIP, Ribka Tjiptaning untuk divaksin Sinovac. Foto/Dok
JAKARTA - Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir menegaskan, bahwa vaksin Covid-19 asal China yakni Sinovac tidak memiliki efek samping, apalagi sampai melumpuhkan organ tubuh manusia. Pernyataan itu dilontarkan dalam forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR pada hari ini.

Hal itu sekaligus merespon pernyataan yang disampaikan salah satu anggota DPR asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP, Ribka Tjiptaning. Seperti diketahui sebelumnya Ribka Tjiptaning menolak untuk divaksinasi Covid-19 , di mana dia lebih memilih membayar denda daripada disuntik vaksin Covid-19.

"Saya tetap tidak mau divaksin, meski sampai usia 63 tahun bisa divaksin. Saya sudah 63 (usia) nih, mau semua usia boleh, tetap (tidak mau). Di sana pun hidup di DKI semua anak-cucu saya dapat sanksi Rp5 juta, mending gue bayar, mau jual mobil, kek," ujar Ribka dalam Rapat kerja beberapa hari lalu.

Baca Juga: Bio Farma Sudah Olah 15 Juta Bahan Baku Vaksin Sinovac, Target 1 Juta Dosis per Hari

Dalam RDP hari ini, Honesti menyebut, perkara lumpuh yang pernah dialami oleh sejumlah orang di Sukabumi, Jawa Barat, usai mendapatkan vaksin polio pada 2005 silam bukanlah kesalahan bahan vaksin yang digunakan. Namun, perkara itu karena adanya kenaikan (outbreak) virus baru yang dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri ke Indonesia.



"Perlu kami jelaskan juga terkait ada kejadian di 2005 di mana isunya ada yang setelah kena vaksin polio lumpuh. Sebenarnya informasinya tidak seperti itu bu Ribka," kata Honesti.

Baca Juga: Ribka Tjiptaning Tolak Vaksinasi COVID-19, Ini Penjelasan PDIP

"Jadi, ada outbreak polio di 2005 itu di desa di daerah Sukabumi. Outbreak itu terjadi bukan karena strain polio yang ada di Indonesia, tetapi ada strain asing yang dibawa dari luar oleh TKI Indonesia yang pulang kampung," lanjut dia.



Meski begitu, virus tersebut segera ditangani oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Kesehatan, dan Bio Farma dengan melakukan program vaksinasi nasional. Hasilnya, hingga saat ini tidak lagi ditemukan kasus polio di Indonesia.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top