Diobrak-abrik Pandemi, Perbankan Mantap ke Digital Mindset
Senin, 25 Januari 2021 - 00:59 WIB
loading...
A
A
A
1. Perubahan Outer-Circle. Yaitu Perubahan di tingkat makro meliputi perubahan ekonomi, politik, teknologi, regulasi dan kebijakan pemerintah, hingga perubahan sosial-budaya di masyarakat.
Faktor resesi ekonomi juga berdampak pada daya beli konsumen yang akan semakin turun. Penurunan daya beli masyarakat diakibatkan oleh pendapatan yang menurun selama pandemi. Dampak bagi sektor perbankan ialah jumlah transaksi harian, penambahan tabungan, dan likuiditas pembayaran kredit yang akan semakin sulit di tengah kondisi yang tak menentu.
Berikutnya pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan fiskal dan moneteryang bisa memberi stimulusbagi pertumbuhan ekonomi. Misalnya relaksasi pembayaran pajak untuk sektor bisnis yang terdampak, keringanan suku bunga kredit di berbagai sektor konsumtif dan bisnis. Kebijakan ini bertujuan menciptakan arus perekonomian yang positif di masa krisis COVID-19.
Perbankan juga harus memitigasi risiko CAR & NPL untuk bisa tetap menjalankan bisnis yang sehat. Pemberian kredit di sektor rumah tangga, bisnis dan komersil juga menurun sejalan dengan kemampuan ekonomi di berbagai sektor tidak didukung oleh pertumbuhan eknomi yang signifikan di kondisi pandemi saat ini.
2. Perubahan Mid-Circle atau level customer. Perubahan konsumen mencakup perubahan kebutuhan, preferensi, prioritas, hingga kebiasaan dan gaya hidup.
Maraknya tren belanja online. Perkembangan digitalisasi juga meningkatkan transaksi berbelanja secara online melalui e-commerce atau marketplace. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah transaksi ecommerce yang kian meningkat di masa pandemi, sehingga menjadi peluang bagi bank untuk jasa pembayaran & transaksi online.
Faktor resesi ekonomi juga berdampak pada daya beli konsumen yang akan semakin turun. Penurunan daya beli masyarakat diakibatkan oleh pendapatan yang menurun selama pandemi. Dampak bagi sektor perbankan ialah jumlah transaksi harian, penambahan tabungan, dan likuiditas pembayaran kredit yang akan semakin sulit di tengah kondisi yang tak menentu.
Berikutnya pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan fiskal dan moneteryang bisa memberi stimulusbagi pertumbuhan ekonomi. Misalnya relaksasi pembayaran pajak untuk sektor bisnis yang terdampak, keringanan suku bunga kredit di berbagai sektor konsumtif dan bisnis. Kebijakan ini bertujuan menciptakan arus perekonomian yang positif di masa krisis COVID-19.
Perbankan juga harus memitigasi risiko CAR & NPL untuk bisa tetap menjalankan bisnis yang sehat. Pemberian kredit di sektor rumah tangga, bisnis dan komersil juga menurun sejalan dengan kemampuan ekonomi di berbagai sektor tidak didukung oleh pertumbuhan eknomi yang signifikan di kondisi pandemi saat ini.
2. Perubahan Mid-Circle atau level customer. Perubahan konsumen mencakup perubahan kebutuhan, preferensi, prioritas, hingga kebiasaan dan gaya hidup.
Maraknya tren belanja online. Perkembangan digitalisasi juga meningkatkan transaksi berbelanja secara online melalui e-commerce atau marketplace. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah transaksi ecommerce yang kian meningkat di masa pandemi, sehingga menjadi peluang bagi bank untuk jasa pembayaran & transaksi online.
Lihat Juga :