Penggunaan GeNose, Pengusaha Bus: Dari Sisi Sains yang Kompeten Menilai Prof. Lang Ling Lung

Senin, 25 Januari 2021 - 19:44 WIB
loading...
Penggunaan GeNose, Pengusaha...
foto/ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kalangan operator bus angkutan kota antar-provinsi (AKAP) mengatakan, penerapan alat pendeteksi virus Covid-19 lewat hembusan nafas GeNose seharusnya bisa dterapkan dari kemarin. Ketua Umum Pengusaha Otobus Muda Indonesia, Kurnia Lesani Adnan, mengatakan, keterlambatan penerapan alat pendeteksi GeNose dimungkinkan karena para ilmuwan Indonesia butuh waktu. ( Baca juga:Pak Nadiem! Penghentian Tunjangan Guru Swasta Dinilai Tidak Adil )

“Ini alat dari UGM itu ya, harusnya dari dulu sudah diterapkan. Tapi seperti kata Prof. Lang Ling Lung, penemuan itu butuh waktu, karenanya kita sangat mendukung karena dari harganya cukup murah,” ujarnya saat dihubungi MNC Portal di Jakarta, Senin (25/1/2021).

Menurut dia, penerapan GeNose merupakan jalan keluar sekaligus terobosan yang dilakukan pemerintah dalam memastikan perjalanan transportasi lebih baik dan aman serta sesuai standar. “Ini solusi, mengapa baru sekarang. Dengan biaya Rp20 ribu per sekali tes GeNose saya kira bisa diakomodasi di seluruh terminal. Tapi kalau dari sisi sains saya tidak berkompeten menilai hanya Ilmuwan yang bisa seperti Prof Lang Ling Lung di serial Donald Bebek,” ungkapnya.

Kementerian Perhubungan akan menerapkan penggunaan alat deteksi Covid-19 bernama GeNose pada moda transportasi bus per 5 Februari 2021. Saat ini pengurusannya sedang dilakukan oleh rehgulator dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. “Ini sudah mendapatkan persetujuan edar dari Kemenkes dan Satgas Penanganan Covid-19. Untuk bus tidak akan wajib, tapi akan dilakukan secara random dengan mandatori per tanggal 5 Februari,” ucap Menhub Budi Karya.

Menhub Budi Karya sudah meminta jajarannya di Direktorat Perhubungan Darat berkoordinasi dengan para Kepala Dinas Perhubungan di daerah jika pengecekan dilakukan secara acak atau random. Menhub menghimbau kepada masyarakat yang akan bepergian menggunakan transportasi bus dan tidak memaksakan diri untuk berangkat jika merasa tidak enak badan atau sakit, karena di terminal-terminal bus dilakukan pengecekan secara acak. ( Baca juga:Jalani Sidang Vonis, Cathrine Wilson Pakai Masker Kain Seharga Rp2,5 Juta )

“Keinginan dari Bapak Presiden yaitu untuk memastikan konektivitas itu tetap berjalan, tetapi protokol kesehatan juga dijalankan secara baik. Kita ingin semua masyarakat tertib dan membantu pemerintah untuk menjaga protokol kesehatan dengan baik,” jelas Menhub.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jumlah Perjalanan Tumbuh...
Jumlah Perjalanan Tumbuh 3 Digit, Lalamove Ride Fokus ke Kawasan Perdagangan dan Transit Jakarta
Shuttle Premium dan...
Shuttle Premium dan Promo J-pass 2025 Bikin Perjalanan Jakarta–Bandung Jadi Nyaman
Viral iPad Raib di Bus,...
Viral iPad Raib di Bus, Pengamat: Penumpang Harus Lebih Hati-hati
Banyak Angkutan Bodong,...
Banyak Angkutan Bodong, Kinerja Transportasi Darat Stagnan
Soal Kebijakan Zero...
Soal Kebijakan Zero ODOL, Pakar Transportasi: Harus Bertahap, Enggak Bisa Gradak-Gruduk
Menhub Ungkap Keputusan...
Menhub Ungkap Keputusan Harga BBM Naik Setelah Melewati 10 Kali Ratas
Pastikan Pemudik Selamat...
Pastikan Pemudik Selamat hingga Kampung Halaman, Hino Kumpulkan 30 Oto Bus di Jateng
Waspada Virus MERS,...
Waspada Virus MERS, Jemaah Haji Diminta Jaga Jarak dari Unta dan Terapkan Prokes
Dishub Jakarta: Bus...
Dishub Jakarta: Bus Tak Lolos Ramp Check Dilarang Beroperasi Angkut Pemudik
Rekomendasi
Uang Senilai Rp185 Miliar...
Uang Senilai Rp185 Miliar dan 40 Kg Emas Disita, Lagi-lagi Terkait Korupsi Wakil Menteri
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Dikabulkan, Hakim: JPU Tak Cermat Susun Dakwaan Kasus Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
Infografis
Sudaryono, Anak Petani...
Sudaryono, Anak Petani Grobogan yang Dipercaya Jadi Ketua BGN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved