Investor Pemula Perlu Memperkuat Literasi
Kamis, 04 Maret 2021 - 08:51 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga : Kasus Rp20 Triliun di BPJS Ketenagakerjaan Diduga Melibatkan Mafia Pasar Modal )
Di kasus BP Jamsostek misalnya, Kejagung telah memeriksa Presdir Mirae Aset Sekuritas Tae Yong Shim, warga negara Korea sebagai saksi. Juga Irwanti, Direktur Schroder Investment Management. Isna dari PT Samuel Asset Management, dan Direktur UOB Kay Hian Sekuritas, Yacinta. ASPEK Indonesia menilai, pemerintah melalui Kejaksaan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, PPATK, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta menjalankan kewenangannya secara maksimal agar kejahatan yang terorganisasi di pasar modal ini tidak lagi terjadi.
Sementara itu, Praktisi Investasi Frisca Devi Choirina mengatakan di pasar modal jauh dari modus penipuan. Sebab semua investor mengeksekusi secara mandiri investasinya. Namun, sering terlihat ada saham ''gorengan'' yang nampak seperti memberi janji menguntungkan namun belum tentu sesuai ekspektasi. Dia menjelaskan, saham “gorengan” umumnya saham berasal dari perusahaan atau emiten yang kapitalisasi pasarnya kecil, kinerjanya pun cenderung negatif.
"Memang lebih mudah dilihat dari kapitalisasi pasar, semakin kecil semakin mudah untuk 'digoreng' oleh market maker atau yang kerap disebut bandar," ungkapnya. Market maker itu biasanya orang atau sekumpulan orang yang bermodal besar. Sebab jika bukan investor dengan dana besar tidak mungkin dapat menaikan atau menurunkan saham dalam waktu singkat secara drastis. Berbeda dengan saham biasa yang tergantung permintaan dan penawaran pasar. Frisca yang kerap memberikan edukasi mengenai saham di komunitas @ngertisaham dan @investorsahampemula juga turut memberikan edukasi mengenai fenomena saham gorengan ini.
"Pastinya saya selalu memberi informasi agar mereka paham mana sebaiknya emiten yang dipilih karena kami membeberkan risiko yang ada karena tidak semua saham perusahaan di bursa layak dan bagus untuk dibeli," tutur Frisca. Dia menambahkan, pihaknya tetap menyarankan untuk memilih saham yang sehat saja kinerjanya. “Investor tentunya ingin menaruh dana di perusahaan yang benar tidak mungkin ingin di perusahaan yang bobrok," sebutnya. (anton c/ananda nararya)
Di kasus BP Jamsostek misalnya, Kejagung telah memeriksa Presdir Mirae Aset Sekuritas Tae Yong Shim, warga negara Korea sebagai saksi. Juga Irwanti, Direktur Schroder Investment Management. Isna dari PT Samuel Asset Management, dan Direktur UOB Kay Hian Sekuritas, Yacinta. ASPEK Indonesia menilai, pemerintah melalui Kejaksaan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, PPATK, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta menjalankan kewenangannya secara maksimal agar kejahatan yang terorganisasi di pasar modal ini tidak lagi terjadi.
Sementara itu, Praktisi Investasi Frisca Devi Choirina mengatakan di pasar modal jauh dari modus penipuan. Sebab semua investor mengeksekusi secara mandiri investasinya. Namun, sering terlihat ada saham ''gorengan'' yang nampak seperti memberi janji menguntungkan namun belum tentu sesuai ekspektasi. Dia menjelaskan, saham “gorengan” umumnya saham berasal dari perusahaan atau emiten yang kapitalisasi pasarnya kecil, kinerjanya pun cenderung negatif.
"Memang lebih mudah dilihat dari kapitalisasi pasar, semakin kecil semakin mudah untuk 'digoreng' oleh market maker atau yang kerap disebut bandar," ungkapnya. Market maker itu biasanya orang atau sekumpulan orang yang bermodal besar. Sebab jika bukan investor dengan dana besar tidak mungkin dapat menaikan atau menurunkan saham dalam waktu singkat secara drastis. Berbeda dengan saham biasa yang tergantung permintaan dan penawaran pasar. Frisca yang kerap memberikan edukasi mengenai saham di komunitas @ngertisaham dan @investorsahampemula juga turut memberikan edukasi mengenai fenomena saham gorengan ini.
"Pastinya saya selalu memberi informasi agar mereka paham mana sebaiknya emiten yang dipilih karena kami membeberkan risiko yang ada karena tidak semua saham perusahaan di bursa layak dan bagus untuk dibeli," tutur Frisca. Dia menambahkan, pihaknya tetap menyarankan untuk memilih saham yang sehat saja kinerjanya. “Investor tentunya ingin menaruh dana di perusahaan yang benar tidak mungkin ingin di perusahaan yang bobrok," sebutnya. (anton c/ananda nararya)
(ton)
Lihat Juga :