Membidik Peluang Ekspor Produk Farmasi ke Negara-Negara Muslim
Jum'at, 05 Maret 2021 - 06:59 WIB
loading...
A
A
A
Fase pertama dari kontrak bisnis ini, ekspor enam bahan baku obat tersebut akan dilakukan selama tiga tahun dengan nilai Rp250 miliar. Pada fase kedua, transfer teknologi akan dilakukan dari CKD OTTO kepada Saidal setelah pabrik onkologi Saidal grup selesai dibangun.
Dengan investasi yang telah digelontorkan CKD OTTO , lebih dari Rp400 miliar, perusahan ini dapat memproduksi obat-obat onkologi dengan standar tinggi. Untuk diketahui, pabrik onkologi CKD OTTO juga merupakan pabrik onkologi pertama di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat halal dari MUI, sehingga diharapkan dapat menjangkau 2 miliar orang di negara-negara Islam dan negara-negara lainnya di dunia. Pasar farmasi di Aljazair, cukup besar. Menduduki posisi ke dua di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara dengan nilai sebesar Rp56 triliun.
Penny K. Lukito, Kepala Badan POM Indonesia, yang hadir saat penandatanganan kontrak binsis anatara dua peruahan tersebut mengatakan, penyakit kanker menjadi salah satu penyakit yang terus meningkat prevalensinya, secara global. Di Indonesia, dikutip dari Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan, menunjukan adanya peningkatan prevalensi tumor atau kanker dari 1,4 per 1.000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,8 per 1.000 penduduk di tahun 2018.
Baca Juga : Buku “Bersahabat dengan Kanker Paru Hadirkan Kisah Inspiratif dan Serukan Bahaya Kanker Paru
Secara global, dari data GLOBOCAN (Global Cancer Observatory), salah satu platform berbasis web interaktif yang menyajikan statistik kanker yang terkait dengan aspek pengendalian dan penelitian terkait kanker secara global, didapatkan data tahun 2020 terdapat 19,3 juta kasus baru secara global, dengan angka kematian tinggi yaitu sebanyak 10 juta kematian.
Peningkatan prevalensi ini menunjukan adanya kenaikan permintaan untuk obat-obat onkologi, dimana kebutuhan untuk obat-obatan tersebut harus dapat dijawab. Penny Lukito menambahkan selain kebutuhan ketersediaan obat-obatan onkologi, harus pula diperhatikan kualitas dari obat-obatan tersebut dan preferensi konsumen juga perlu diperhatian. Bisnis model di dalam Perjanjian Kerja sama antara CKD OTTO dan SAIDAL Grup berusaha untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Di saat yang sama Presiden Direktur PT CKD OTTO Pharmaceuticals, In Hyun Baik, berharap semua obat unggulan hasil produksi CKO OTTO dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. “Selain itu, kami juga berharap dapat berkontribusi terhadap perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Asia, dimulai dari Indonesia”,ujarnya.
Peluang besar yang di industri farmasi, tentunya bisa dimanfatkan oleh perusahaan di dalam negeri untuk bisa meningkatkan penjualannya ke luar negeri. Selain menambah pendapatan untuk perusahaan, peningkatan ekspor produk farmasi juga turut berkontribusi terhadap pemuliahan ekonomi nasional.
Dengan investasi yang telah digelontorkan CKD OTTO , lebih dari Rp400 miliar, perusahan ini dapat memproduksi obat-obat onkologi dengan standar tinggi. Untuk diketahui, pabrik onkologi CKD OTTO juga merupakan pabrik onkologi pertama di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat halal dari MUI, sehingga diharapkan dapat menjangkau 2 miliar orang di negara-negara Islam dan negara-negara lainnya di dunia. Pasar farmasi di Aljazair, cukup besar. Menduduki posisi ke dua di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara dengan nilai sebesar Rp56 triliun.
Penny K. Lukito, Kepala Badan POM Indonesia, yang hadir saat penandatanganan kontrak binsis anatara dua peruahan tersebut mengatakan, penyakit kanker menjadi salah satu penyakit yang terus meningkat prevalensinya, secara global. Di Indonesia, dikutip dari Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan, menunjukan adanya peningkatan prevalensi tumor atau kanker dari 1,4 per 1.000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,8 per 1.000 penduduk di tahun 2018.
Baca Juga : Buku “Bersahabat dengan Kanker Paru Hadirkan Kisah Inspiratif dan Serukan Bahaya Kanker Paru
Secara global, dari data GLOBOCAN (Global Cancer Observatory), salah satu platform berbasis web interaktif yang menyajikan statistik kanker yang terkait dengan aspek pengendalian dan penelitian terkait kanker secara global, didapatkan data tahun 2020 terdapat 19,3 juta kasus baru secara global, dengan angka kematian tinggi yaitu sebanyak 10 juta kematian.
Peningkatan prevalensi ini menunjukan adanya kenaikan permintaan untuk obat-obat onkologi, dimana kebutuhan untuk obat-obatan tersebut harus dapat dijawab. Penny Lukito menambahkan selain kebutuhan ketersediaan obat-obatan onkologi, harus pula diperhatikan kualitas dari obat-obatan tersebut dan preferensi konsumen juga perlu diperhatian. Bisnis model di dalam Perjanjian Kerja sama antara CKD OTTO dan SAIDAL Grup berusaha untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Di saat yang sama Presiden Direktur PT CKD OTTO Pharmaceuticals, In Hyun Baik, berharap semua obat unggulan hasil produksi CKO OTTO dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. “Selain itu, kami juga berharap dapat berkontribusi terhadap perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Asia, dimulai dari Indonesia”,ujarnya.
Peluang besar yang di industri farmasi, tentunya bisa dimanfatkan oleh perusahaan di dalam negeri untuk bisa meningkatkan penjualannya ke luar negeri. Selain menambah pendapatan untuk perusahaan, peningkatan ekspor produk farmasi juga turut berkontribusi terhadap pemuliahan ekonomi nasional.
(eko)
Lihat Juga :