Proyek Baterai Kendaraan Listrik Bakal Bikin Bisnis Pom Bensin Koit
Jum'at, 05 Maret 2021 - 19:14 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pengembangan proyek baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) Battery terus digenjot pemerintah. Di sisi investasi, pemerintah menggandeng investor global untuk ambil bagian dalam proyek strategi nasional (PSN) tersebut.
Tercatat, perusahaan global yang akan bermitra dalam ekosistem kendaraan listrik Indonesia adalah Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal China dan LG Chem asal Korea Selatan (Korsel). ( Baca juga:Pertamina Sudah 5 Tahun Cermati Industri Baterai Kendaraan Listrik )
Meski begitu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut, keberadaan proyek baterai kendaraan listrik berdampak pada konsumsi bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Itu karena 80% pengguna kendaraan listrik akan melakukan tambah daya (charging) di rumah mereka masing-masing.
"Kita bicara EV battery itu nanti kalau jadi mobil listrik 80% mobilnya charging di rumah, berarti bisnis pom bensin akan sunset. ini bukan nakut-nakutin karena perubahan ini terjadi," ujar Erick Kamis (5/2/2021).
Secara general, perubahan terjadi karena adanya transformasi teknologi yang menuntut sejumlah pelaku bisnis melakukan penyesuaian dengan cepat.
Tercatat, perusahaan global yang akan bermitra dalam ekosistem kendaraan listrik Indonesia adalah Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal China dan LG Chem asal Korea Selatan (Korsel). ( Baca juga:Pertamina Sudah 5 Tahun Cermati Industri Baterai Kendaraan Listrik )
Meski begitu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut, keberadaan proyek baterai kendaraan listrik berdampak pada konsumsi bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Itu karena 80% pengguna kendaraan listrik akan melakukan tambah daya (charging) di rumah mereka masing-masing.
"Kita bicara EV battery itu nanti kalau jadi mobil listrik 80% mobilnya charging di rumah, berarti bisnis pom bensin akan sunset. ini bukan nakut-nakutin karena perubahan ini terjadi," ujar Erick Kamis (5/2/2021).
Secara general, perubahan terjadi karena adanya transformasi teknologi yang menuntut sejumlah pelaku bisnis melakukan penyesuaian dengan cepat.
Lihat Juga :