Menteri Sakti Takjub dengan Kegigihan Istri Pembudi Daya Lobster
Rabu, 24 Maret 2021 - 20:30 WIB
loading...
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono saat meninjau tambak lobster di Lombok Timur. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, dari panen yang dilakukannya, pembudi daya lobster bisa meraup untung sebesar Rp250 juta di Telong Elong, Lombok Timur.
"Ini pembudi daya modalnya Rp150 juta, hasilnya Rp400 juta dalam waktu sekitar delapan bulan. Jadi satu tahun bisa berpenghasilan sekitar Rp500 juta," ujar dia, Rabu (24/3/2021). ( Baca juga:Janji Menteri Trenggono: Kita Lawan Ekspor Benih Lobster! )
Salah satu pembudi daya lobster, yakni Rojak, berhasil mengumpulkan keuntungan Rp250 juta melalui budi daya lobster. Lobster yang dibudidayakan jenisnya mutiara dan pasir. Dalam setahun, keramba jaring apung berisi delapan lubang budi daya milik Rojak, mampu memproduksi sekitar satu ton lobster, dengan pemeliharan mulai dari ukuran jangkrik.
Besarnya keuntungan yang didapat pembudi daya membuat Menteri Sakti semakin optimistis sektor ini dapat berkembang pesat. Apalagi Indonesia memiliki benih bening lobster yang melimpah sebagai modal utama dilakukannya budi daya. Selain itu juga punya sumber daya manusia yang sudah terbukti mampu menjalankan budi daya, serta perairan yang cocok.
Fakta lain yang menarik dari sebagian besar pembudi daya di Telong Elong adalah keterlibatan istri dalam menjalankan aktivitas budi daya. Istri para pembudidaya sampai rela menginap di keramba saat suami mereka mencari ikan untuk pakan lobster. Dia pun dibuat takjub dengan kegigihan pembudi daya Telong Elong tersebut sehingga akan terus memberikan dukungan.
"Kami di Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendukung penuh. Baik regulasinya, infrastruktur, pendampingan, dan hal lain yang dibutuhkan untuk peningkatan produktivitas," ungkap dia.
Menteri Sakti memplot Lombok menjadi pusat lobster tropika ke depannya, dengan membangun lobster estate. Nantinya akan ada sistem pemantau harga, sehingga harga lobster lebih transparan dan stabil.
"Ini pembudi daya modalnya Rp150 juta, hasilnya Rp400 juta dalam waktu sekitar delapan bulan. Jadi satu tahun bisa berpenghasilan sekitar Rp500 juta," ujar dia, Rabu (24/3/2021). ( Baca juga:Janji Menteri Trenggono: Kita Lawan Ekspor Benih Lobster! )
Salah satu pembudi daya lobster, yakni Rojak, berhasil mengumpulkan keuntungan Rp250 juta melalui budi daya lobster. Lobster yang dibudidayakan jenisnya mutiara dan pasir. Dalam setahun, keramba jaring apung berisi delapan lubang budi daya milik Rojak, mampu memproduksi sekitar satu ton lobster, dengan pemeliharan mulai dari ukuran jangkrik.
Besarnya keuntungan yang didapat pembudi daya membuat Menteri Sakti semakin optimistis sektor ini dapat berkembang pesat. Apalagi Indonesia memiliki benih bening lobster yang melimpah sebagai modal utama dilakukannya budi daya. Selain itu juga punya sumber daya manusia yang sudah terbukti mampu menjalankan budi daya, serta perairan yang cocok.
Fakta lain yang menarik dari sebagian besar pembudi daya di Telong Elong adalah keterlibatan istri dalam menjalankan aktivitas budi daya. Istri para pembudidaya sampai rela menginap di keramba saat suami mereka mencari ikan untuk pakan lobster. Dia pun dibuat takjub dengan kegigihan pembudi daya Telong Elong tersebut sehingga akan terus memberikan dukungan.
"Kami di Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendukung penuh. Baik regulasinya, infrastruktur, pendampingan, dan hal lain yang dibutuhkan untuk peningkatan produktivitas," ungkap dia.
Menteri Sakti memplot Lombok menjadi pusat lobster tropika ke depannya, dengan membangun lobster estate. Nantinya akan ada sistem pemantau harga, sehingga harga lobster lebih transparan dan stabil.
Lihat Juga :