Ada 3.152 Pelanggan Pasang PLTS Atap Per Januari 2021

loading...
Ada 3.152 Pelanggan Pasang PLTS Atap Per Januari 2021
Minat pasar terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap mengalami lonjakan pesat dalam beberapa tahun belakangan. Per Januari 2021 sudah ada 3.152 pelanggan. Foto/Dok
JAKARTA - Minat pasar terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap mengalami lonjakan pesat dalam beberapa tahun belakangan. Di samping teknologinya relatif mudah diimplementasikan di segala area, biaya instalasi terus menurun dan kian ekonomis.

Baca Juga: PLTS Atap Kunci Utama Pencapaian Target EBT di Tahun 2025

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengungkapkan, kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan energi terbarukan semakin meningkat seiring banyak dijumpainya produk penghasil energi bersih di pasaran.

"Per Januari 2021 sudah ada 3.152 pelanggan dengan total kapasitas terpasang mencapai 22,632 Mega Watt peak (MWp)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (15/4/2021).

Pemasangan terbesar dilakukan oleh PT Coca Cola di Cikarang, Jawa Barat, yakni 7,2 MWp. Instalasi ini bahkan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Selanjutnya ada PLTS Atap Danone Aqua di Klaten (3 MWp), PLTS Atap Refinery unit (3,36 MWp), PLTS Atap Sei Mangkei (2 MWp), PLTS Atap KESDM (859 kWp), PLTS Atap Angkasa Pura II (241 kWp) dan PLTS Atap SPBU Pertamina (52 kWp).



"Perhitungan ini belum termasuk pelanggan rumah tangga yang trennya makin naik. Makanya, kami optimis terhadap peluang tenaga surya ini," ungkap Dadan.

Baca Juga: Mau Pasang PLTS Atap Biar Hemat? Cek Nih Aplikasinya

Dadan menuturkan, PLTS Atap didorong untuk mengakselerasi target bauran EBT 23% di 2025, pertumbuhannya massif, terlihat dari kapasitas terpasang saat ini. Dia juga optimis laju penambahan konsumsi PLTS Atap mampu menekan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 3,2 juta ton CO2e.

Upaya ini dibarengi dengan terwujudnya target penambangan kapasitas terpasang hingga 2,14 Giga Watt (GW) di 2030 mendatang. Rinciannya dengan menyasar ke bangunan dan fasilitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 742 MW, industri dan bisnis (624,2 MW), rumah tangga (648,7 MW), pelanggan PLN dan kelompok sosial (68,8 MW) serta gedung pemerintah (42,9 MW).
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top