Jual 11 Pesawatnya, Singapore Airlines Megap-Megap?

loading...
Jual 11 Pesawatnya, Singapore Airlines Megap-Megap?
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang berpengaruh pada perjalanan global membawa dampak luar biasa pada industri masakapai internasional, termasuk Singapore Airlines. Apalagi, maskapai Negeri Singa ini tidak memiliki pasar domestik sehingga terhantam keras oleh kebijakan berbagai negara terkait penghentian perjalanan penumpang internasional karena kontrol perbatasan dan tindakan karantina.

Tak pelak, kondisi itu membuat keuangan maskapai ini sangat tertekan. Makanya, perusahaan kemudian menempuh sejumlah strategi untuk menjaga napas keuangannya.

Baca juga:Trenggono Temui Susi Pudjiastuti di Pangandaran, Ada Apa Ya?

Salah satu cara yang ditempuh adalah melego sejumlah armada maskapai. Seperti dikutip Channelnewsasia.com, Senin ini (3/5) Singapore Airlines berhasil meraih dana sebanyak S$ 2 miliar atau setara USD1,5 milar (Rp21,6 triliun/kurs Rp14.400) dari kesepakatan penjualan dan penyewaan kembali pesawatnya.

"Likuiditas tambahan dari transaksi jual dan sewa-balik ini memperkuat kemampuan kami untuk menavigasi dampak pandemi Covid-19 dari posisi yang kuat," kata Kepala Eksekutif Singapore Airlines Goh Choon Phong dalam sebuah pernyataan.



Dana sebesar S$2 miliar itu didapat melalui kesepakatan jual-beli untuk 11 pesawatnya kepada empat pihak guna membantu meningkatkan likuiditas saat bergulat dengan penurunan terkait pandemi. Sebelas pesawat yang dijual itu adalah tujuh Airbus SE A350-900 dan empat Boeing Co 787-10.

Baca juga:Biden: Kami Ikuti Osama bin Laden ke Gerbang Neraka dan Menangkapnya

Tak sampai di situ, maskapai ini juga akan terus mencari cara lain untuk meningkatkan likuiditasnya. Langkah yang dilakukan Singapore Airlines sejatinya merupakan aksi "plagiat" dari para kompetitor yang sudah lebih dahulu melakukannya, seperti Cathay Pacific Airways Ltd dan Qantas Airways Ltd.

Singapore Airlines mengatakan memiliki akses ke lebih dari S$ 2,1 miliar jalur kredit yang belum ditarik dan opsi untuk mengumpulkan hingga S$ 6,2 miliar dalam bentuk obligasi konversi sebelum pertemuan tahunannya pada Juli 2021.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top