Analis: Perbaikan Ekonomi Nasional Bisa Kerek Harga SBN

loading...
Analis: Perbaikan Ekonomi Nasional Bisa Kerek Harga SBN
Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi Indonesia hingga kuartal I/2021 masih terkontraksi alias minus 0,74% secara tahunan (year-on-year/yoy), namun membaik dibanding kuartal IV/2020 yang terkontraksi 2,19% (yoy).

Faktor pendorong terutama berasal dari sektor eksternal yang meningkat tajam seiring pemulihan ekonomi global yang semakin kuat dan percepatan stimulus fiskal yang berlanjut.

Tren perbaikan ekonomi domestik terjadi pada hampir semua komponen PDB, baik sisi pengeluaran maupun lapangan usaha (LU). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor pada kuartal I/2021 tumbuh positif untuk pertama kalinya sejak merebak pandemi Covid-19 di Indonesia, sebesar 6,74% (yoy). Angka ini meningkat tinggi dari capaian kuartal sebelumnya yang terkontraksi 7,21% (yoy).

Baca juga: Kasus COVID-19 di India Kembali Tembus 400 Ribu



Sementara itu, perbaikan ekspor khususnya ditopang oleh peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama yakni China dan Amerika Serikat (AS).

Perkembangan positif pada sektor eksternal dan perbaikan investasi mendorong perbaikan kinerja impor yang tumbuh sebesar 5,27% (yoy). Konsumsi Pemerintah meningkat 2,96% (yoy), sejalan dengan akselerasi realisasi stimulus fiskal dalam bentuk belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial.

Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, Dhian Karyantono memperkirakan faktor makroekonomi yang positif tersebut dapat mengangkat harga obligasi pemerintah (surat berharga negara/SBN) sekaligus menurunkan tingkat imbal hasil (yield) di pasar.

"Hingga Juni, harga SBN tenor acuan 10 tahun dapat naik dan menurunkan yield-nya hingga di bawah 6% pada kuartal III/2021 nanti," ujar Dhian dalam webinar di Jakarta, Kamis (6/5/2021).

Saat ini, lanjut dia, harga SBN acuan 10 tahun sudah turun sejak awal tahun dan membuat yield-nya naik hingga kisaran 6,5%. Pergerakan harga dan yield obligasi di pasar sekunder saling bertolak belakang, dan yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga. Ini karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Baca juga: Minus di Kuartal I, Pejabat Kemenkeu Optimistis Ekonomi Akan Meroket hingga 8% di Kuartal II



Dhian juga memprediksi kondisi makroekonomi global, khususnya yang dipicu kekhawatiran inflasi di AS, sempat memicu kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury), menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan menaikkan indikator risiko Indonesia (CDS).

“Namun, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter mengingat dua hal utama yaitu inflasi domestik yang masih rendah serta terkendalinya defisit neraca berjalan,” ungkapnya.
(ind)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top