Analis: Perbaikan Ekonomi Nasional Bisa Kerek Harga SBN
Kamis, 06 Mei 2021 - 15:16 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi Indonesia hingga kuartal I/2021 masih terkontraksi alias minus 0,74% secara tahunan (year-on-year/yoy), namun membaik dibanding kuartal IV/2020 yang terkontraksi 2,19% (yoy).
Faktor pendorong terutama berasal dari sektor eksternal yang meningkat tajam seiring pemulihan ekonomi global yang semakin kuat dan percepatan stimulus fiskal yang berlanjut.
Tren perbaikan ekonomi domestik terjadi pada hampir semua komponen PDB, baik sisi pengeluaran maupun lapangan usaha (LU). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor pada kuartal I/2021 tumbuh positif untuk pertama kalinya sejak merebak pandemi Covid-19 di Indonesia, sebesar 6,74% (yoy). Angka ini meningkat tinggi dari capaian kuartal sebelumnya yang terkontraksi 7,21% (yoy).
Baca juga: Kasus COVID-19 di India Kembali Tembus 400 Ribu
Sementara itu, perbaikan ekspor khususnya ditopang oleh peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama yakni China dan Amerika Serikat (AS).
Perkembangan positif pada sektor eksternal dan perbaikan investasi mendorong perbaikan kinerja impor yang tumbuh sebesar 5,27% (yoy). Konsumsi Pemerintah meningkat 2,96% (yoy), sejalan dengan akselerasi realisasi stimulus fiskal dalam bentuk belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, Dhian Karyantono memperkirakan faktor makroekonomi yang positif tersebut dapat mengangkat harga obligasi pemerintah (surat berharga negara/SBN) sekaligus menurunkan tingkat imbal hasil (yield) di pasar.
Faktor pendorong terutama berasal dari sektor eksternal yang meningkat tajam seiring pemulihan ekonomi global yang semakin kuat dan percepatan stimulus fiskal yang berlanjut.
Tren perbaikan ekonomi domestik terjadi pada hampir semua komponen PDB, baik sisi pengeluaran maupun lapangan usaha (LU). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor pada kuartal I/2021 tumbuh positif untuk pertama kalinya sejak merebak pandemi Covid-19 di Indonesia, sebesar 6,74% (yoy). Angka ini meningkat tinggi dari capaian kuartal sebelumnya yang terkontraksi 7,21% (yoy).
Baca juga: Kasus COVID-19 di India Kembali Tembus 400 Ribu
Sementara itu, perbaikan ekspor khususnya ditopang oleh peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama yakni China dan Amerika Serikat (AS).
Perkembangan positif pada sektor eksternal dan perbaikan investasi mendorong perbaikan kinerja impor yang tumbuh sebesar 5,27% (yoy). Konsumsi Pemerintah meningkat 2,96% (yoy), sejalan dengan akselerasi realisasi stimulus fiskal dalam bentuk belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, Dhian Karyantono memperkirakan faktor makroekonomi yang positif tersebut dapat mengangkat harga obligasi pemerintah (surat berharga negara/SBN) sekaligus menurunkan tingkat imbal hasil (yield) di pasar.
Lihat Juga :