Betah di Klub Saham Gocapan, Fundamental Grup Bakrie Mengkhawatirkan
Kamis, 10 Juni 2021 - 16:34 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan saham Grup Bakrie cenderung stagnan ditengah tren pemulihan ekonomi dan perbaikan harga komodoitas. Misalnya, saham Bakrieland (ELTY) hampir berbulan-bulan di harga 50 perak. Sementara saham Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) cenderung melemah meski tren komoditas membaik, belum lagi ekuitas juga negatif. Saham lain, seperti Bakrie Brother, Bakrie Telecom, juga Bumi resources hampir mirip, bergerak volatile.
Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) memperingatkan potensi delisting atas saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), karena sudah disuspensi selama dua tahun. Peringatan potensi delisting tersebut mengingat suspend saham BTEL yang telah mencapai lebih dari 24 bulan atau dua tahun. Saham Bakrie Telecom telah disuspensi selama 24 bulan pada tanggal 27 Mei 2021 sehingga berdasarkan ketentuan III.3.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Bakrie Telecom telah memenuhi kriteria penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia," ungkap BEI belum lama ini.
Baca Juga: Sembako Bakal Kena Pajak, Fadli Zon: Harus Ditolak, Rakyat Makin Susah
Pengamat Ekonomi Ucok Pulungan berpendapat, dengan kondisi fundamental yang cenderung berat di Grup Bakrie, bahkan harga sahamnya cenderung stagnan, investor perlu berhati-hati. Kata dia, tekanan harga komoditas, ditambah laporan keuangan yang buruk, serta besarnya utang yang harus dibayar tentu para investor harus berhati-hati. "Investor tentunya harus berhati-hati, karena kondisinya gak menunjukan trend naik. Bagaimana pun nanti penanam saham yang menanggung," kata Ucok, Kamis (10/6/2021).
Investor, kata Ucok, sebaiknya menunggu saat yang tepat, dan benar-benar melihat perkembangan emiten di Grup Bakrie, juga emiten lain. Karena trend gelobal menujukan pemulihan ekonomi belum sepenuhnya stabil. Dia pun menyarankan agar investor beralih ke saham-saham sektor konsumer dan infrastruktur yang kecenderungannya naik belakangan ini. "Pada komoditas internasional, sektor konsumer dan infrastruktur cenderung defensif terhadap ekonomi global," beber dia.
Analis Pasar Modal, Lucky Bayu Purnomo, menambahkan, Group Bakrie memang saat ini terus melakukan upaya penyelamatan. Namun tetap saja perlu kehati-hatian. Sejauh ini Lucky melihat perusaham-perusahan Gorup Bakrie masih melakukan upaya-upaya penyelamatan seperti melakukan restrukturisasi internal, untuk melakukan optimalisasi asset yang dinilai masih memiliki peluang produktifitas.
Baca Juga: Wow! Deretan Orang Terkaya Dunia Ini Ternyata Doyan Ngemplang Pajak
Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) memperingatkan potensi delisting atas saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), karena sudah disuspensi selama dua tahun. Peringatan potensi delisting tersebut mengingat suspend saham BTEL yang telah mencapai lebih dari 24 bulan atau dua tahun. Saham Bakrie Telecom telah disuspensi selama 24 bulan pada tanggal 27 Mei 2021 sehingga berdasarkan ketentuan III.3.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Bakrie Telecom telah memenuhi kriteria penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia," ungkap BEI belum lama ini.
Baca Juga: Sembako Bakal Kena Pajak, Fadli Zon: Harus Ditolak, Rakyat Makin Susah
Pengamat Ekonomi Ucok Pulungan berpendapat, dengan kondisi fundamental yang cenderung berat di Grup Bakrie, bahkan harga sahamnya cenderung stagnan, investor perlu berhati-hati. Kata dia, tekanan harga komoditas, ditambah laporan keuangan yang buruk, serta besarnya utang yang harus dibayar tentu para investor harus berhati-hati. "Investor tentunya harus berhati-hati, karena kondisinya gak menunjukan trend naik. Bagaimana pun nanti penanam saham yang menanggung," kata Ucok, Kamis (10/6/2021).
Investor, kata Ucok, sebaiknya menunggu saat yang tepat, dan benar-benar melihat perkembangan emiten di Grup Bakrie, juga emiten lain. Karena trend gelobal menujukan pemulihan ekonomi belum sepenuhnya stabil. Dia pun menyarankan agar investor beralih ke saham-saham sektor konsumer dan infrastruktur yang kecenderungannya naik belakangan ini. "Pada komoditas internasional, sektor konsumer dan infrastruktur cenderung defensif terhadap ekonomi global," beber dia.
Analis Pasar Modal, Lucky Bayu Purnomo, menambahkan, Group Bakrie memang saat ini terus melakukan upaya penyelamatan. Namun tetap saja perlu kehati-hatian. Sejauh ini Lucky melihat perusaham-perusahan Gorup Bakrie masih melakukan upaya-upaya penyelamatan seperti melakukan restrukturisasi internal, untuk melakukan optimalisasi asset yang dinilai masih memiliki peluang produktifitas.
Baca Juga: Wow! Deretan Orang Terkaya Dunia Ini Ternyata Doyan Ngemplang Pajak
Lihat Juga :