Utang Pemerintah Bengkak, Paling Boros Buat Gaji PNS
Jum'at, 25 Juni 2021 - 19:00 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/MNC Media
A
A
A
JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengungkapkan di tengah utang yang terus menumpuk ternyata cost belanja paling besar yang dikeluarkan oleh pemeritah saat ini bukan dari sektor kesehatan. Namun pengeluaran lebih banyak hanya untuk belanja pegawai termauk gaji PNS.
“Tenyata cost belanja yang paling besar bukan untuk belanja kesehatan apalagi disituasi pandemi. Tapi yang paling besar adalah belanja yang sifatnya birokratis seperti belanja pegawai dan barang dan itu menjadi pemborosan,” katanya kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (25/6/2021).
Baca Juga: Duh, Beban Utang Pemerintah Sudah Sangat Mengkhawatirkan!
Menurutnya, salah satu kebijakan yang memboroskan pengeluaran pemerintah adalah program Work From Bali (WFB). Ia menilai, program WFB justru blunder, sebab selain menambah penularan Covid-19, uang yang diutangkan juga digunakan untuk perjalanan dinas disaat yang tidak tepat.
“Harusnya kan bisa work from home. Kemudian, kalaupun utang digunakan untuk pembayaran infrastruktur, dalam enam tahun terakhir terbukti pembangunan infrastruktur tidak menurunkan signifikan biaya logistik. Padahal tujuannya adalah untuk efisiensi logistic,” terang Bhima.
“Tenyata cost belanja yang paling besar bukan untuk belanja kesehatan apalagi disituasi pandemi. Tapi yang paling besar adalah belanja yang sifatnya birokratis seperti belanja pegawai dan barang dan itu menjadi pemborosan,” katanya kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (25/6/2021).
Baca Juga: Duh, Beban Utang Pemerintah Sudah Sangat Mengkhawatirkan!
Menurutnya, salah satu kebijakan yang memboroskan pengeluaran pemerintah adalah program Work From Bali (WFB). Ia menilai, program WFB justru blunder, sebab selain menambah penularan Covid-19, uang yang diutangkan juga digunakan untuk perjalanan dinas disaat yang tidak tepat.
“Harusnya kan bisa work from home. Kemudian, kalaupun utang digunakan untuk pembayaran infrastruktur, dalam enam tahun terakhir terbukti pembangunan infrastruktur tidak menurunkan signifikan biaya logistik. Padahal tujuannya adalah untuk efisiensi logistic,” terang Bhima.
Lihat Juga :