Next Normal, Konsumen Indonesia Makin Lengket dengan Teknologi Digital

loading...
Next Normal, Konsumen Indonesia Makin Lengket dengan Teknologi Digital
Pelajar SD ditemani ibunya melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring. Foto/Dok SINDOnews/Adam Erlangga
JAKARTA - Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat Indonesia beradaptasi dengan kenormalan baru atau new normal seperti keharusan memakai masker dan aktivitas bekerja ataupun belajar jarak jauh dari rumah. Hal ini menjadi katalis bagi percepatan adopsi digital di Tanah Air.

Kebiasaan-kebiasaan baru ini kemungkinan besar tidak akan hilang ketika nanti memasuki next normal atau kenormalan selanjutnya. Next normal yaitu fase di mana situasi sudah kembali normal pascapandemi, namun perubahan perilaku atau kebiasaan saat new normal tetap terbawa. Termasuk juga dalam hal perubahan perilaku pengguna smartphone di Indonesia.

Studi terbaru Ericsson ConsumerLab, The Future Urban Reality 2021, mengungkap, konsumen Indonesia rata-rata online sekitar 8 jam 45 menit setiap harinya. Di mana, rata-rata terjadi penambahan waktu online 1 jam per hari, dan 2-3 jam per hari untuk mereka yang bekerja atau belajar jarak jauh. Survei juga menyebut, lebih dari separuh waktu yang digunakan untuk online terjadi pada smartphone.

Baca juga: Rekor Baru! Vaksinasi Covid-19 Nasional Sentuh 1,3 Juta Per Hari



Head of ConsumerLab Ericsson Research, Jasmeet Singh Sethi, mengatakan, pada periode next normal (2021-2023), konsumen di Indonesia akan lebih akrab dengan teknologi digital dan mengutamakan pengalaman. Dibanding sebelum pandemi, orang Indonesia menghabiskan waktu 1,5 jam lebih lama di dunia maya.

"Pada next normal ini, sekitar 59% pekerjaan atau pembelajaran kemungkinan masih akan dilakukan secara jarak jauh. Separuh dari aktivitas belanja juga akan dilakukan secara daring. Di sisi lain, perekonomian masyarakat setahun dari sekarang cenderung mengalami perbaikan," ujarnya, dikutip Minggu (27/6/2021).

Sementara itu, Laporan ConsumerLab “Five Ways to a Better 5G” juga membahas minat konsumen untuk beralih ke 5G meski di tengah pandemi Covid-19, serta perilaku pengguna baru yang ditimbulkan oleh 5G.

Di Indonesia sendiri sudah ada landasan kuat untuk penerapan 5G. Separuh dari pengguna smartphone di Tanah Air, berdasarkan Survey Consumerlab, berkeinginan menggunakan 5G begitu layanan ini tersedia secara komersial.

"Sekitar 19% pengguna smartphone di perkotaan memiliki smartphone yang mendukung 5G dan ini bisa menjadi fondasi yang kuat untuk penerapan 5G di Indonesia. Selain itu, sekitar 5 juta pengguna menyatakan akan beralih ke 5G dalam dua tahun pertama setelah jaringan 5G tersedia secara komersial," paparnya.

Baca juga: Ada 5G, Pemerintah Tegaskan 4G tetap Tulang Punggung Transformasi Digital



Secara global, Ericsson (NASDAQ: ERIC) memperkirakan jumlah pelanggan seluler 5G akan melebihi 580 juta pada akhir 2021, didorong oleh sekitar 1 juta pelanggan seluler 5G baru setiap hari.

Ramalan ini, yang dimuat dalam Ericsson Mobility Report edisi ke-20, memperkirakan bahwa 5G akan menjadi generasi seluler yang diadopsi paling cepat. Pada akhir 2026, jumlah pelanggan 5G diperkirakan akan mencapai sekitar 3,5 miliar dan cakupan populasi 5G akan mencapai 60%.

Di Asia Tenggara dan Oseania, jumlah mobile subscription kini telah melampaui 1,1 miliar, dengan jumlah langganan 5G hanya berada di bawah angka 2 juta. Langganan 5G diperkirakan akan tumbuh kuat selama beberapa tahun ke depan dengan perkiraan total sekitar 400 juta pada tahun 2026.

Country Head Ericsson Indonesia, Jerry Soper mengatakan, pandemi telah menyebabkan lonjakan permintaan untuk koneksi internet yang lebih cepat karena saat ini masyarakat sangat bergantung pada internet dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan bisnis dari jarak jauh.

"Saat ini, fixed dan mobile broadband berkualitas tinggi menjadi infrastruktur nasional yang penting. Untuk mengatasi pertumbuhan data yang cepat dan mengurangi biaya per GB, kita memerlukan teknologi yang lebih baik dan transisi ke teknologi 5G dengan mudah dan lancar," ujarnya.

Menurut dia, teknologi 5G yang cepat, andal, dan responsif, akan membuka peluang transformatif baru bagi Indonesia. "Ericsson sebagai pemimpin ICT global, akan terus berinvestasi dalam inovasi teknologi 5G dan membangun ekosistem 5G yang kuat bersama dengan penyedia layanan komunikasi dan pemerintah guna mendukung transformasi digital di Indonesia," pungkasnya.
(ind)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top