Duet Maut Utang Covid dan Perubahan Iklim Bikin Dunia Terancam Bangkrut
Rabu, 18 Agustus 2021 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Lesti Kejora Baca Surat Ar-Rahman, Suaranya Bergetar Tahan Tangis
Untuk negara berkembang, yang sudah dihantui oleh Covid-19, krisis iklim akan memberikan lebih banyak tekanan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa kenaikan 10 poin persentase dalam kerentanan perubahan iklim--diukur dengan indeks Inisiatif Adaptasi Global Notre Dame—dapat menyebabkan peningkatan lebih dari 150 basis poin obligasi pemerintah jangka panjang untuk negara berkembang.
Program lingkungan PBB memperkirakan bahwa di negara-negara berkembang akan menyediakan biaya adaptasi tahunan untuk perubahan iklim mencapai USD300 miliar pada tahun 2030. Angka itu akan meningkat menjadi USD500 miliar pada tahun 2050.
Data dari Institute of International Finance (IIF) menunjukkan, rasio utang terhadap PDB negara-negara berkembang masih sekitar 60%. Kondisinya berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris yang rasionya di atas 100%, bahkan Jepang yang rasionya di atas 200%.
Kenaikan dari tingkat rasio sebelum pandemi sekitar 52% menjadi perhatian khusus. Bank sentral Eropa, AS, dan Jepang pada dasarnya menanggung pinjaman negara, tetapi ini tidak mungkin di negara-negara miskin, yang pada akhirnya harus membayar utang.
"Bagaimana Anda mengupayakan pendanaan yang diperlukan mengingat tingkat utang yang tinggi dan pentingnya kerangka peringkat?" kata Sonja Gibbs, direktur pelaksana dan kepala keuangan berkelanjutan IIF.
Untuk negara berkembang, yang sudah dihantui oleh Covid-19, krisis iklim akan memberikan lebih banyak tekanan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa kenaikan 10 poin persentase dalam kerentanan perubahan iklim--diukur dengan indeks Inisiatif Adaptasi Global Notre Dame—dapat menyebabkan peningkatan lebih dari 150 basis poin obligasi pemerintah jangka panjang untuk negara berkembang.
Program lingkungan PBB memperkirakan bahwa di negara-negara berkembang akan menyediakan biaya adaptasi tahunan untuk perubahan iklim mencapai USD300 miliar pada tahun 2030. Angka itu akan meningkat menjadi USD500 miliar pada tahun 2050.
Data dari Institute of International Finance (IIF) menunjukkan, rasio utang terhadap PDB negara-negara berkembang masih sekitar 60%. Kondisinya berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris yang rasionya di atas 100%, bahkan Jepang yang rasionya di atas 200%.
Kenaikan dari tingkat rasio sebelum pandemi sekitar 52% menjadi perhatian khusus. Bank sentral Eropa, AS, dan Jepang pada dasarnya menanggung pinjaman negara, tetapi ini tidak mungkin di negara-negara miskin, yang pada akhirnya harus membayar utang.
"Bagaimana Anda mengupayakan pendanaan yang diperlukan mengingat tingkat utang yang tinggi dan pentingnya kerangka peringkat?" kata Sonja Gibbs, direktur pelaksana dan kepala keuangan berkelanjutan IIF.
(uka)
Lihat Juga :