Perizinan Rumit Bikin Anak Muda di Daerah Enggan Jadi Pengusaha
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 07:17 WIB
loading...
Ilustrasi UMKM. Foto/Dok MPI/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) , Eka Sastra mengungkapkan, generasi muda di daerah sedikit yang berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Salah satu penyebabnya karena sistem perizinan yang rumit.
“Selama tim Hipmi menjalankan program Hipmi Goes to School, didapatkan banyak anak muda tingkat pelajar tidak bersemangat untuk berwirausaha. Adapun hal itu lantaran terhalangnya sistem perizinan, pembiayaan, serta hambatan lainnya,” katanya dalam diskusi daring, Kamis (26/8/2021).
Baca juga: Pengusaha Teddy Tjokro Tersangka Megakorupsi Asabri
Eka memaparkan bahwa selama mendekati para pelajar, banyak dari mereka yang mengungkapkan dirinya tidak tertarik menjadi pengusaha lantaran banyak halangan yang dihadapi.
“Banyak benturan yang mereka hadapi, di mana itu membuat mereka berpikiran ‘ngapain saya menjadi pengusaha. Lebih baik saya jadi PNS’. Ini yang membuat kami sulit mendorong banyaknya pengusaha muda di Indonesia,” terang Eka.
Lebih lanjut, kata Eka, sebelum perizinan berusaha melalui Online Single Submission (OSS) berbasis risiko diluncurkan, para anak muda di daerah sulit mendapatkan perizinan membuka usaha. Sebab, di daerah sistem perizinan akan mudah didapat hanya bagi mereka yang memiliki kedekatan oleh pihak pengambil keputusan.
“Sistem perizinan sebelumnya yang tanpa digital, itu berbasis kedekatan. Jadi siapa yang punya kedekatan dengan pengambil keputusan, itulah yang bisa mendapatkan perizinan,” ungkapnya.
“Selama tim Hipmi menjalankan program Hipmi Goes to School, didapatkan banyak anak muda tingkat pelajar tidak bersemangat untuk berwirausaha. Adapun hal itu lantaran terhalangnya sistem perizinan, pembiayaan, serta hambatan lainnya,” katanya dalam diskusi daring, Kamis (26/8/2021).
Baca juga: Pengusaha Teddy Tjokro Tersangka Megakorupsi Asabri
Eka memaparkan bahwa selama mendekati para pelajar, banyak dari mereka yang mengungkapkan dirinya tidak tertarik menjadi pengusaha lantaran banyak halangan yang dihadapi.
“Banyak benturan yang mereka hadapi, di mana itu membuat mereka berpikiran ‘ngapain saya menjadi pengusaha. Lebih baik saya jadi PNS’. Ini yang membuat kami sulit mendorong banyaknya pengusaha muda di Indonesia,” terang Eka.
Lebih lanjut, kata Eka, sebelum perizinan berusaha melalui Online Single Submission (OSS) berbasis risiko diluncurkan, para anak muda di daerah sulit mendapatkan perizinan membuka usaha. Sebab, di daerah sistem perizinan akan mudah didapat hanya bagi mereka yang memiliki kedekatan oleh pihak pengambil keputusan.
“Sistem perizinan sebelumnya yang tanpa digital, itu berbasis kedekatan. Jadi siapa yang punya kedekatan dengan pengambil keputusan, itulah yang bisa mendapatkan perizinan,” ungkapnya.
Lihat Juga :