Mantan Loper Koran ini Sukses Berbisnis di Hong Kong, Jadi Inspirasi para TKI

loading...
Mantan Loper Koran ini Sukses Berbisnis di Hong Kong, Jadi Inspirasi para TKI
Wahyudi Chandra pengusaha jasa pengiriman uang sebelumnya pernah jadi loper koran. Foto/RumahMigran.com
JAKARTA - Wahyudi Chandra, seorang mantan tenaga kerja Indonesia ( TKI ) yang kini sukses jadi pengusaha dan investor di Hong Kong , menjadi inspirasi bagi banyak TKI lainnya. Kesuksesan, menurut Chandra, adalah membawa orang lain sukses, sebab dia pernah hidup di posisi bawah.

"Karena saya pernah hidup miskin, setelah posisi saya saat ini, arti kesuksesan bagi saya adalah bagaimana bisa membantu sukses orang lain," ujar Chandra dikutip dari channel Youtube Mboke Memey pada Minggu (19/9/2021).

Baca juga: Disney+ Hadir di Korea Selatan dan Hong Kong pada November 2021

Pria gondrong ini mengawali perjuangannya dari awal tahun 1990-an, meninggalkan Lombok kampung halamannya menuju Hong Kong. Setibanya di sana, dia tidak malu-malu untuk melakoni berbagai pekerjaan. Menjadi loper koran, penjual makanan, dan berjualan kaset pernah ia jalani.



Pada tahun 1996, ia menyadari bahwa banyak potensi bisnis lain yang cukup besar. Keahlian yang dia peroleh tentang bisnis remitasi atau pengiriman uang pun akhirnya dia tuangkan dengan membuka toko kecil-kecilan.

Saat ini, toko minimarket yang bernama “Berjuang Menembus Impian” alias BMI milik Chandra tidak hanya jadi rujukan bagi para TKI untuk berbelanja, namun juga orang Hong Kong yang ingin berbelanja bahan-bahan masakan/produk Indonesia.

Causewaybay menjadi lokasi favorit para TKI di Hong Kong untuk berbelanja dan mengirimkan uang ke tempat asalnya. Sering kali BMI menjadi tempat yang direkomendasikan karena harga yang ditawarkan jauh lebih rendah daripada jasa pengiriman uang melalui bank biasa. Faktor itu yang turut menarik perhatian dan kepercayaan para investor kepada Chandra.

Hingga saat ini, Chandra masih memiliki banyak lini bisnis yang dikembangkan, seperti biro perjalanan, money changer, pengiriman uang, restoran, dan juga balai latihan kerja, seperti restoran Kampoeng Indonesia dan Chandra Remitence. Namun, hantaman pandemi pun sempat memukul bisnis-bisnis yang ada di Hong Kong sejak penerapan lockdown.

"Ketika menghadapi pandemi Covid-19, awalnya saya tidak terasa. Yang terasa sekali itu ketika Hong Kong lockdown, saya sudah beranggapan bahwa usaha saya selesai, namun saya tidak menyerah," ungkapnya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top