Oh Nehi! Perbankan India Didera Krisis Kredit Macet: Nilainya Diperkirakan Rp1.420 Triliun
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 09:09 WIB
loading...
A
A
A
Juli tahun lalu, Fitch Ratings mengatakan bank-bank India yang sedang kesulitan akan membutuhkan dana segar antara USD15 miliar USD58 miliar pada tahun depan.
Pemerintah India sendiri berencana meluncurkan "bad bank" yang telah lama dibicarakan dan akan mencoba menjinakkan kerdit macet sebesar USD27 miliar. Jumlah itu diperkirakan masih seperempat dari total nilai kredit macet India yang mencapai USD100 miliar atau setara Rp1.420 triliun.
Tekanan yang dihasilkan dari kredit busuk tidak hanya membuat perbankan tertatih-tatih, tetapi juga merusak pertumbuhan. Investasi swasta telah menukik tajam karena bank-bank yang menghindari risiko sangat irit mengucurkan kredit.
"Bad bank" digambarkan sebagai perusahaan rekonstruksi aset, biasanya membeli kredit macet dari bank yang terkena dampak dengan harga yang disepakati. Kemudian melikuidasi atau menjual aset itu sehingga membantu bank mendapatkan kembali sebagian uang yang mereka pinjamkan kepada perusahaan.
Salah satu biang keladi membengkaknya kredit macet di perbankan India adalah sejumlah sektor industri yang bergerak di sektor besi dan baja, penerbangan, pertambangan, jalan, listrik, dan komunikasi. Setengah lusin dari sektor industri itu menyumbang 80% atas kredit macet yang ada.
Dalam jangka panjang, India perlu membersihkan industri perbankannya secara radikal. Pasalnya, rasio penyaluran kredit di Negeri Hindustan itu masih dinilai rendah, kurang dari 60% terhadap PDB yang oleh IMF tahun ini diperkirakan mencapai USD3.05 triliun. Sementara, beberapa banknya memiliki pinjaman bermasalah tertinggi di dunia.
Kredit macet di perbankan India bermula antara 2006 hingga 2008 ketika perbankan jorjoran menggelontorkan kredit saat pertumbuhan ekonomi menembus 9,1% (2006). Meski ada krisis keuangan global antara 2007-2008 dan terjadi perlambatan pertumbuhan, namun tak membuat India "terluka" sehingga antusiasme untuk berinvestasi tak surut.
Pemerintah India sendiri berencana meluncurkan "bad bank" yang telah lama dibicarakan dan akan mencoba menjinakkan kerdit macet sebesar USD27 miliar. Jumlah itu diperkirakan masih seperempat dari total nilai kredit macet India yang mencapai USD100 miliar atau setara Rp1.420 triliun.
Tekanan yang dihasilkan dari kredit busuk tidak hanya membuat perbankan tertatih-tatih, tetapi juga merusak pertumbuhan. Investasi swasta telah menukik tajam karena bank-bank yang menghindari risiko sangat irit mengucurkan kredit.
"Bad bank" digambarkan sebagai perusahaan rekonstruksi aset, biasanya membeli kredit macet dari bank yang terkena dampak dengan harga yang disepakati. Kemudian melikuidasi atau menjual aset itu sehingga membantu bank mendapatkan kembali sebagian uang yang mereka pinjamkan kepada perusahaan.
Salah satu biang keladi membengkaknya kredit macet di perbankan India adalah sejumlah sektor industri yang bergerak di sektor besi dan baja, penerbangan, pertambangan, jalan, listrik, dan komunikasi. Setengah lusin dari sektor industri itu menyumbang 80% atas kredit macet yang ada.
Dalam jangka panjang, India perlu membersihkan industri perbankannya secara radikal. Pasalnya, rasio penyaluran kredit di Negeri Hindustan itu masih dinilai rendah, kurang dari 60% terhadap PDB yang oleh IMF tahun ini diperkirakan mencapai USD3.05 triliun. Sementara, beberapa banknya memiliki pinjaman bermasalah tertinggi di dunia.
Kredit macet di perbankan India bermula antara 2006 hingga 2008 ketika perbankan jorjoran menggelontorkan kredit saat pertumbuhan ekonomi menembus 9,1% (2006). Meski ada krisis keuangan global antara 2007-2008 dan terjadi perlambatan pertumbuhan, namun tak membuat India "terluka" sehingga antusiasme untuk berinvestasi tak surut.
Lihat Juga :