Gara-gara Krisis Energi, Eropa Disebut Telah Jadi 'Sandera' Rusia
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 09:21 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintahan Obama dan Trump menggembleng opini bipartisan terhadap jalur pipa tersebut dan Presiden Joe Biden juga mengumumkan sanksi terhadap perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut. Akan tetapi sanksi tersebut dihapuskan pada bulan Mei dalam apa yang dilihat sebagai upaya AS untuk membangun kembali hubungan dengan Jerman.
"Eropa sekarang telah membiarkan Rusia menjadi sandera atas pasokan energi," kata Timothy Ash, ahli strategi senior kedaulatan pasar negara berkembang di Bluebay Asset Management, seperti dilansir CNBC, Jumat (8/10/2021). Dia menyebut situasi ini sungguh "tidak dapat dipercaya."
Dia menyebut sangat-sangat jelas bahwa Rusia menguasai Eropa (Uni Eropa dan Inggris) dalam hambatan energi. Eropa dan Inggris menurutnya terlalu lemah untuk berbuat sesuatu tentang itu. Ash menyebutnya sebagai bentuk "pemerasan energi."
"Eropa meringkuk ketakutan di saat menuju musim dingin, Rusia akan lebih lanjut mengetatkan sekrup (pipa energi) dan membiarkan (Eropa) membeku sampai (Rusia) mendapatkan keinginannya dan NS2 disertifikasi," tuturnya.
Putin menggunakan pertemuan pemerintah yang disiarkan televisi Rabu lalu untuk menawarkan peningkatan pasokan gas ke Eropa. Dia juga mencela wilayah tersebut karena membatalkan banyak kontrak gas jangka panjangnya dengan imbalan kesepakatan spot, dengan mengatakan Kremlin siap untuk menegosiasikan kontrak jangka panjang baru untuk penjualan gas.
Banyak ahli percaya bahwa Rusia sengaja menahan pasokan gas ke Eropa, dalam upaya untuk mempercepat sertifikasi pipa Nord Stream 2 Jerman. Rusia telah membantah ini, bagaimanapun, dengan juru bicara Putin Dmitry Peskov menyangkal bahwa Rusia memiliki peran dalam krisis energi Eropa.
Meskipun demikian, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mencatat bahwa sertifikasi Jerman yang diharapkan dari jalur pipa kontroversial itu dapat membantu mendinginkan harga.
"Eropa sekarang telah membiarkan Rusia menjadi sandera atas pasokan energi," kata Timothy Ash, ahli strategi senior kedaulatan pasar negara berkembang di Bluebay Asset Management, seperti dilansir CNBC, Jumat (8/10/2021). Dia menyebut situasi ini sungguh "tidak dapat dipercaya."
Dia menyebut sangat-sangat jelas bahwa Rusia menguasai Eropa (Uni Eropa dan Inggris) dalam hambatan energi. Eropa dan Inggris menurutnya terlalu lemah untuk berbuat sesuatu tentang itu. Ash menyebutnya sebagai bentuk "pemerasan energi."
"Eropa meringkuk ketakutan di saat menuju musim dingin, Rusia akan lebih lanjut mengetatkan sekrup (pipa energi) dan membiarkan (Eropa) membeku sampai (Rusia) mendapatkan keinginannya dan NS2 disertifikasi," tuturnya.
Putin menggunakan pertemuan pemerintah yang disiarkan televisi Rabu lalu untuk menawarkan peningkatan pasokan gas ke Eropa. Dia juga mencela wilayah tersebut karena membatalkan banyak kontrak gas jangka panjangnya dengan imbalan kesepakatan spot, dengan mengatakan Kremlin siap untuk menegosiasikan kontrak jangka panjang baru untuk penjualan gas.
Banyak ahli percaya bahwa Rusia sengaja menahan pasokan gas ke Eropa, dalam upaya untuk mempercepat sertifikasi pipa Nord Stream 2 Jerman. Rusia telah membantah ini, bagaimanapun, dengan juru bicara Putin Dmitry Peskov menyangkal bahwa Rusia memiliki peran dalam krisis energi Eropa.
Meskipun demikian, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mencatat bahwa sertifikasi Jerman yang diharapkan dari jalur pipa kontroversial itu dapat membantu mendinginkan harga.
Lihat Juga :