alexametrics

Pertamina Beberkan Pentingnya Membangun Kilang Minyak Baru di Tanah Air

loading...
Pertamina Beberkan Pentingnya Membangun Kilang Minyak Baru di Tanah Air
PT Pertamina (Persero) membeberkan alasan betapa pentingnya bagi Indonesia untuk membangun kilang minyak baru, di tengah ketergantungan impor. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) membeberkan alasan betapa pentingnya bagi Indonesia untuk membangun kilang minyak baru, di tengah ketergantungan impor. Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang menjelaskan, penurunan pasokan minyak mentah domestik setiap tahunnya sejak medio 2014-2015, mengharuskan adanya upaya maksimal untuk menemukan cadangan minyak mentah yang besar (giant field).

Adapun sejak tahun 2010, data memperlihatkan adanya penurunan tajam minyak mentah domestik. Lantaran itu harus ada upaya-upaya eksplorasi yang intens ataupun strategi-strategi yang bisa meningkatkan produk minyak mentah dalam negeri.

"Sementara kilang-kilang kita ini di desain dan dirancang untuk mengelola minyak mentah domestik. Artinya, kalau produksi dalam negeri terus berkurang sementara kilang kita juga harus tetap beroperasi. Maka kita harus mencari sumber minyak mentah yang lain," kata Ignatius di Jakarta, Jumat (5/6/2020).



Namun, yang juga kerap terjadi adalah bahwa minyak hasil impor itu tidak cocok dengan desain dan rancangan dari kilang-kilang yang dimiliki Pertamina.

"Sehingga kita harus melakukan penyesuaian agar bisa mengolah, misalnya minyak mentah dari Saudi, yang berbeda dengan minyak mentah kita. Itulah kenapa kita harus melakukan modifikasi, jika harus mengolah minyak mentah impor tersebut," ujarnya.

Sementara terkait dengan supply and demand. Lima kilang besar kini dimiliki Pertamina, yakni di Balikpapan, Balongan, Cilacap, Dumai, dan Plaju, serta satu kilang kecil di Sorong.

Kapasitas kilangnya terpasang satu juta barrel, namun secara optimum hanya beroperasi di kapasitas 850 ribu barel. "Kalau bicara sumber minyak mentah lain, dalam artian kita harus melakukan impor," ujarnya.

Sambung dia menambahkan, dari jumlah kilang tersebut maka Pertamina hanya bisa menghasilkan produk-produk BBM sekitar 680 ribu barrel per hari. Sementara konsumsi nasional, menurut data Pertamina tahun 2017, adalah antara 1,3 juta sampai 1,4 juta barel per hari.

"Artinya, hampir 50% dari produk BBM kita harus impor. Jadi ketergantungan kita terhadap impor ini memang sangat besar. Maka dari itu kita harus membangun dan meningkatkan kapasitas dari kilang-kilang kita yang sudah ada selama ini," pungkasnya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top